Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Training’ Category

Manajemen Waktu

Apa pendapat anda tentang “waktu”, suatu anugerah atau justru pengekang hidup?
Tuhan menganugerahi waktu 24 jam sehari bagi setiap orang untuk beraktivitas dan menikmati hidup. Sudah cukupkah ? Apakah kita sering merasa kekurangan waktu, bahkan seolah-olah hidup kita begitu dikendalikan oleh waktu ?

Ketika jam weker berbunyi, kita harus segera bangun dan bersiap ke sekolah, jika tidak, kita akan terlambat, padahal mata masih terasa berat dan tubuh masih ingin menikmati kasur yang empuk. Kita harus bekerja keras untuk menyelesaikan setumpuk tugas-tugas, karena deadline waktu yang tidak boleh kita langgar. Kita harus menghafal banyak bahan pelajaran karena tiba waktu untuk ulangan. Bahkan kita harus mulai kuliah, kerja, menikah, pensiun, dan sebagainya, karena sudah tiba waktu untuk semua itu. Jadi sebenarnya seberapa ‘berkuasanya’ waktu itu ?

Waktu dapat menjadi pengekang hidup, jika kita membiarkan diri dikendalikan olehnya, tapi waktu menjadi suatu anugerah, jika kita mampu mengendalikan dan mengelolanya dengan bijaksana serta melihatnya sebagai kesempatan untuk mengalami hal-hal yang bermakna. Jadi, kita yang memegang kendali atas waktu, bukan waktu yang mengendalikan kita.

Sudahkah anda membuat waktu anda bermakna ?
Sebelum membahas lebih jauh tentang manajemen waktu, kita perlu memahami dua pengertian tentang waktu, yaitu sebagai kronos dan kairos.
Kronos adalah waktu-waktu yang kita jalani, misalnya Senin, Selasa, sehari, sebulan, setahun. Seringkali kita menggunakannya pada istilah kronologis. Sedangkan kairos adalah waktu yang bermakna bagi kita. Dari usia 0 tahun hingga 17 tahun kita menjalani kronos, tapi dalam kurun waktu itu pasti ada saat-saat penting yang membawa kesan tersendiri bagi kita, misalnya saat pertama masuk sekolah, saat bertengkar dengan sahabat, saat pertama kali jatuh cinta, saat gagal di ujian, saat menjadi juara di pertandingan olahraga. Bagaimana reaksi kita pada saat itu dan bagaimana kita menghadapinya ? Pelajaran apa yang kita peroleh dari peristiwa itu ?
Itulah kairos, saat-saat bermakna dalam perjalanan hidup yang membentuk karakter diri kita.

Kairos tidak harus berupa peristiwa besar, mungkin hanya peristiwa kecil / sepele, tapi yang penting kita bisa belajar sesuatu dari peristiwa itu. Intinya, marilah kita belajar peka untuk melihat makna dibalik peristiwa. Ada perbedaan besar antara orang yang hanya sekedar menjalani kronos dengan orang yang mampu melihat kairos-kairos dalam hidupnya.

Orang yang mampu memahami waktu sebagai kairos, melihat hidup sebagai kesempatan , bukan sekedar hidup yang dijalani begitu saja tanpa makna. Kesempatan untuk mengalami suka dan duka, sukses dan gagal, yang memproses diri kita menjadi pribadi yang matang dan tangguh. Kesempatan untuk mengisi hidup ini dengan banyak hal yang bermakna.

Kita masuk perguruan tinggi selama 4 atau 5 tahun, apakah hanya untuk mendapat gelar sarjana ? Harus lebih dari itu, waktu-waktu itu akan menjadi kesempatan untuk meraih kairos-kairos. Kesulitan ketika belajar, kegagalan di ujian, pertemuan dengan orang serta lingkungan yang baru, adalah kesempatan untuk belajar menjadi pribadi yang lebih ulet, lebih punya kontrol diri, lebih mampu menyesuaikan diri dan sebagainya. Sudahkah anda mengubah kronos menjadi kairos ?

Memanajemen waktu dengan tepat
Jika kita memahami waktu sebagai kairos, kita akan menyadari bahwa waktu itu begitu berharga. Mungkin ada banyak hal yang ingin kita lakukan dan kita alami dalam hidup ini, bagaimana cara mengaturnya ?
Ada 3 hal yang harus kita miliki: a goal – a plan – take action

A goal ( tujuan )
Apa tujuan yang ingin kita capai dalam hidup ini ? Mengapa kita ingin mencapai itu ? Masing-masing orang tentu berbeda, tapi setiap orang harus punya. Ini penting, karena banyak orang yang menjalani hari-hari hidupnya tanpa tahu untuk apa ia hidup, mau ke mana ia menuju. Hidup menjadi seperti petualangan tanpa arah atau hanya sebuah rutinitas. Padahal hidup adalah sebuah perjalanan yang perlu direncanakan dengan baik. Jika anda belum menemukan tujuan hidup anda, ambillah waktu untuk menggumulkan hal itu. Bila perlu mintalah bantuan pada orang yang mampu membimbing anda. Ini adalah langkah awal yang penting. Jangan di hari tua kita baru menyesal ” Mengapa aku tidak menata hidupku sejak muda ” atau kita baru menyadari ” Mengapa hidupku jadi begini ? ” Tentu di saat itu semuanya sudah terlambat.

Setelah kita tahu apa yang ingin kita capai dalam hidup ( ini adalah tujuan jangka panjang ), kita dapat melanjutkannya dengan membuat tujuan-tujuan atau target-target jangka pendek, sebagai langkah untuk mencapai tujuan akhir. Target untuk 5 tahun mendatang, target tahun ini, target semester ini, bahkan target hari ini. Tujuan/target bisa lebih dari satu, misalnya target dalam bidang studi, pekerjaan, spiritual, dan sebagainya. Buatlah target yang realistis ( sesuai kemampuan ) dan konkrit. Bila perlu tulislah pada kertas/buku catatan anda.

A plan ( rencana )
” If you fail to plan, you plan to fail.” Pernyataan ini menunjukkan betapa pentingnya sebuah perencanaan. Jika kita sudah punya tujuan/target yang jelas, kita dapat merencanakan langkah dan cara untuk mencapai hal itu. Beberapa langkah yang dapat kita lakukan adalah :

-Mengatur aktivitas
Evaluasi kembali aktivitas-aktivitas yang biasa kita lakukan selama ini. Dari sekian banyak aktivitas yang ada, pilihlah mana yang perlu dilakukan, mana yang tidak. Apa aktivitas yang lebih baik kita lakukan di waktu luang, misalnya: apakah kita sering memboroskan waktu untuk nonton VCD atau jalan-jalan ke Mall ? Apakah ada kegiatan yang lebih bermanfaat yang dapat kita lakukan ? Mungkin belajar bahasa Inggris, jika ternyata kita punya tujuan menjadi ahli komputer sedangkan kemampuan bahasa Inggris kita masih kurang. Jadi kita men-seleksi aktivitas dalam rangka mencapai tujuan yang sudah kita targetkan.

-Menentukan prioritas
Dari sekian banyak aktivitas yang sudah kita seleksi, terkadang kita masih ingin melakukan banyak hal : kuliah, les Inggris, les musik, olahraga, kumpul dengan teman-teman, ikut organisasi atau pelayanan, bekerja paruh waktu, dan sebagainya. Jika kita ingin melakukan semuanya, mungkin bisa, tapi hasilnya belum tentu optimal, dan bisa jadi yang terpenting justru terabaikan. Misalnya: karena terlalu asyik berorganisasi, kuliah jadi terlantar.
Kita harus menentukan aktivitas-aktivitas yang harus mendapat prioritas utama, dan aktivitas-aktivitas yang boleh kita lakukan, namun pada porsi yang tepat. Sebagai contoh: olahraga itu penting, kita perlu menyediakan waktu untuk itu, tapi tidak perlu menjadi prioritas utama, jika tujuan kita bukan untuk menjadi seorang atlit. Jika suatu saat kita dihadapkan pada dua pilihan, misalnya sore ini harus kerja kelompok padahal bersamaan dengan jadwal main basket dengan teman-teman. Kita bisa menentukan mana yang harus kita dahulukan, karena kita tahu apa prioritas kita.

-Membuat rencana yang realistis
Jika kita sudah menentukan target yang realistis, maka kita juga perlu membuat rencana yang realistis. Misalkan dalam semester pertama kita punya target untuk mencapai IP di atas 2,5, kita membuat rencana agar target itu tercapai. Kita membuat jadwal belajar secara teratur, berapa jam sehari, kapan waktu yang terbaik, dan sebagainya. Buatlah semua itu secara realistis, sehingga kita dapat sungguh-sungguh melaksanakannya.

-Melaksanakan rencana secara fleksibel
Terkadang rencana yang sudah kita buat, terganggu oleh hal-hal yang tidak terduga. Misalkan nanti malam adalah jadwal kita belajar, tapi ternyata ada acara penting yang harus kita hadiri. Jika acara itu memang penting dan tidak dapat ditunda, batalkan jadwal belajar dan carilah waktu pengganti. Tapi perlu diwaspadai, jangan suka mengubah rencana karena tergoda dengan hal-hal yang kurang penting. Jika ada kegiatan di luar rencana yang ingin kita lakukan, aturlah waktu sehingga hal yang penting tetap dapat kita laksanakan.

-Membuat agenda harian
Mempunyai jadwal kegiatan harian akan sangat membantu kita untuk memanajemen waktu yang kita miliki setiap hari, namun tidak semua orang mau membuatnya secara detil. Paling tidak kita harus mencatat hal-hal penting yang harus kita lakukan di agenda harian, sehingga di pagi hari kita sudah tahu apa yang harus kita lakukan pada hari itu dan bagaimana cara kita mengatur waktu untuk menyelesaikan semuanya. Target jangka panjang akan tercapai jika kita mampu mendisiplin diri untuk menyelesaikan target-target harian.

Take action ( bertindak )
Lakukan apa yang sudah direncanakan! Jika tidak, semua target dan rencana yang kita buat tidak punya arti apa-apa. Beberapa hal yang harus kita waspadai :

-Jika ‘penyakit’ malas menyerang
” Saya lagi nggak mood “; ” Waktunya nggak pas buat belajar ” dan sebagainya.

-Kebiasaan menunda pekerjaan
” Besok masih ada waktu kok “; ” Sebentar lagi ah “; ” Ujiannya kan masih minggu depan ”

-Tidak mampu mendisiplin diri sendiri
Kalau sudah terlanjur nonton televisi atau main game, lupa segalanya

-Tidak berani berkata “tidak”
‘Sungkan’ menolak teman yang tiba-tiba mengajak keluar atau ngobrol lewat telepon

Kemampuan memanajemen waktu berkaitan erat dengan kebiasaan kita sehari-hari. Jika kita sudah terbiasa hidup tanpa planning, atau terbiasa menunda-nunda sesuatu, akan sangat sulit mendisiplin diri dengan jadwal waktu yang terencana. Mengubah kebiasaan adalah hal yang sulit, namun kesuksesan diraih dengan kemauan dan keberanian untuk berubah. Berubah ke arah yang lebih baik dari hari ke hari, terutama dalam hal manajemen waktu.

There never has been, and cannot be, a good life
without self control
– Leo Tolstoy –

Referensi :
Pauk, Walter. 1984. How to Study in College, Boston : Houghton Mifflin Company.
Tong, Stephen. 1996. Pemuda dan Krisis Zaman, Jakarta : Stephen Tong Evangelistic Ministries International.

Read Full Post »

Oleh: Iwan Riswandi, member AEE , US .

Fasilitasi sehubungan dengan judul di atas ditujukan untuk menjembatani peristiwa atau pengalaman yang dialami oleh perserta latih (baca: selanjutnya ditulis peserta saja) dengan kehidupan sehari-hari atau dalam pekerjaannya. Menjembatani termasuk di dalamnya menerjemahkan, memaknai, menganalogikan, dan transfer pengalaman dengan isu-isu yang terjadi dalam proses bisnis masing-masing peserta.

Perihal “menjembatani”, Michael Gass, mengidentifikasikan teori transfer ke dalam tiga bagian yang signifikan; transfer spesifik, tranfer non-spesifik dan transfer metaphorik. Sebagai gambaran, beberapa kelompok peserta mendapatkan tantangan untuk menyeberangi sebuah danau dengan perlengkapan yang terbatas, misalnya beberapa dayung, jaket pelampung, ban dalam, bambu dan beberapa meter tali. Kemudian pada saat proses fasilitasi berlangsung, beberapa peserta mengungkapkan bahwa dirinya belajar bagaimana cara mengikat tali yang benar, mendayung yang benar, dan membaca medan dengan tepat, maka sampai pada tahap ini seorang fasilitator secara langsung atau tidak langsung telah menjembatani bahwa dari kegiatan tersebut peserta belajar hal-hal yang spesifik tadi.

Kemudian beberapa peserta lain mengungkapkan bahwa mereka merasakan betapa pentingnya membuat perencanaan, mengkomunikasikan rencana hingga seluruh anggota memahami apa yang akan dicapai, mengatur irama kerja, bekerjasama dan berkomunikasi dengan efektif. Pada tahap ini seorang fasilitator secara langsung atau tidak langsung telah menjembatani bahwa dari kegiatan tersebut peserta belajar hal-hal yang non-spesifik. Bukan belajar cara membuat simpul tali atau mendayung, tapi belajar hal-hal yang tidak spesifik dengan tugas kerjanya.

Sampai pada akhir kegiatan, beberapa peserta menyimpulkan bahwa dari kegiatan tersebut mereka belajar tentang menjadi pemimpin yang akomodatif, pemimpin yang mampu membawa seluruh anggota kelompok meraih tujuan bersama, dan pemimpin yang mampu membawa kegembiraan dalam bekerjasama. Pada tahap ini peserta belajar hal yang lebih kompleks, lebih dari sekedar menyebrangi sebuah danau dengan perlengkapan terbatas. Tapi juga belajar tentang pentingnya meninternalisasi visi dan misi bersama, kesungguhan dan daya juang yang tak kunjung padam untuk mencapai kesuksesan bersama.

Dalam proses mem-fasilitasi pengalaman belajar, ada beberapa teknik yang lazim digunakan dalam dunia experiential learning. Pendekatan ini tumbuh berkembang sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan hasil-hasil penelitian di lapangan.

Tahun 1941 ketika Outward Bound yang dibidani oleh Kurt Han lahir, merupakan salah satu momentum belajar dari pengalaman mulai didengar, salah satu instrukturnya sempat menyatakan sebuah kalimat yang menjadi populer yaitu “let the mountain speak for themselves”. Kalimat tersebut oleh sebagian besar praktisi dan akademisi experiential learning dipercaya sebagai teknik fasilitasi generasi paling awal. Jadi pengalaman yang dialami oleh peserta tidak diproses sehingga menjadi “nilai belajar” yang sama-sama disadari, baik oleh peserta atau fasilitatornya. Dengan kata lain peserta melakukan “learning by doing”. Sampai saat inipun penerapan teknik ini masih banyak digunakan, karena dipercaya bahwa sejatinya orang belajar adalah memaknai pengalaman yang menimpa dirinya sendiri oleh dirinya sendiri.

Pada perkembangan berikutnya, teknik fasilitasi ini berkembang sesuai kebutuhan dan bergeser dari let the experience speak for itself menjadi speak on behalf the experience. Pada teknik ini pengalaman dievaluasi dan direlasikan ke dalam kehidupan sehari-hari oleh si fasilitator. Fasilitator lebih banyak memimpin dan melakukan intervensi terhadap proses belajar peserta, maka dalam teknik ini sering di sebut sebagai learning by telling, karena kecenderungan yang terjadi adalah ceramah atau kuliah umum. Misalnya ketika sekelompok peserta yang telah selesai melakukan pelayaran, kemudian diajak duduk bersama, kemudian fasilitator menjelaskan bahwa mereka telah belajar A, B dan C misalnya. Kemudian beberapa perilaku, keputusan, atau tindakan yang menurut fasiltator tidak sesuai dengan semestinya (tentunya dalam kacamata fasiltator), dievaluasi dan diberitahukan sebenarnya harus seperti apa. Terakhir si fasilitator menjelaskan bahwa dari kegiatan pelayaran seharusnya peserta belajar hal-hal berikut; A, B, C, D dan seterusnya. Teknik fasilitasi ini tentunya sampai sekarang juga masih sering digunakan dengan berbagai alasan, misalnya karena sesuai dengan analisa kebutuh pelatihan, sesuai latar belakang pendidikan peserta, atau karena si fasilitator hanya tahu teknik tersebut. Kecenderungan yang terjadi di tanah air juga berdasarkan pengamatan saya di lapangan, masih berada pada tahap ini.

Teknik fasilitasi berikutnya adalah debriefing the experience, peserta belajar melalui refleksi dari pengalaman. Pada tahap ini di sepanjang proses mengalami dan di akhir kegiatan peserta diajak untuk berbagi, mengungkapkan, dan mendengarkan pengalaman orang lain, serta mengungkapkan makna pengalaman hingga cara melakukan sesuatu dengan lebih baik. Teknik ini menjadi teknik paling terkenal dan paling sering digunakan khususnya oleh praktisi experiential learning. Proses ini menjadi penting karena tidak semua peserta mampu memaknai dengan sendirinya pengalaman yang dialaminya. Apalagi jika sampai dengan dihubungkan atau dicari relevansinya terhadap kebutuhannya di dalam pekerjaan. Dengan proses ini diharapkan objektif pelatihan dapat dicapai oleh setiap peserta dengan maksimal.

Sejak debriefing atau refleksi menjadi umum dilakukan setelah peserta selesai melakukan kegiatan, sebagian fasilitator berdasarkan pengalamannya menemukan bahwa mengarahkan peserta ke dalam tema refleksi tertentu ternyata menguntungkan juga. Penemuan ini akhirnya mengarah pada teknik fasilitasi generasi ke-empat yaitu direct frontloading the experience. Frontloading adalah memberikan muatan tertentu di awal kegiatan. Dalam sebagian besar proses belajar experiential learning, fasilitator memberikan pengarahan (brief) dengan menjelaskan bagaimana sebuah tugas atau kegiatan dikerjakan, termasuk aturan dan risikonya, kemudian fasilitator melakukan debriefing berdasarkan pengarahan tadi. Biasanya frontloading menekankan hal-hal yang bersinggungan dengan perilaku apa yang sebaiknya dimunculkan, tujuan apa yang semestinya dicapai, mengapa pengalaman itu penting dan relasinya ke dalam kehidupan, perilaku mana yang mendukung kesuksesan dan perilaku yang mana yang sebaiknya dihindari sehingga tidak menghambat kesuksesan kelompok.

Tidak cukup dengan melakukan direct frontloading the experiene, fasilitasi merambah lebih jauh ke dunia bisnis dengan cara memberikan dan membangun nuansa-nya ke dalam pengalaman belajar. Bahasa bisnis dijadikan judul-judul kegiatan atau proyek pengalaman. Dalam bahasa mengajar dikenal dengan nama apersepsi, yaitu membangun ”mind” peserta dengan cara penggunaan istilah-istilah yang relevan dengan kehidupan sehari-harinya. Misalnya peserta yang terdiri dari orang-orang marketing, maka judul kegiatan berkisar dengan bahasa-bahasa dan istilah yang kental dengan marketing. Tugas kelompok menuju sebuah pulau misalnya diganti dengan judul proyek Penetrasi Pasar Baru, atau Bisnis Hari Ini. Pasar Potensial adalah nama pulau yang akan dituju oleh peserta, dayung, pelampung, tali, bambu dan lainnya disebut sebagai asset perusahaan. Dan ketika peserta mampu menyelesaikan tugas dengan cepat, maka efisiensi dan produktivitas menjadi tema yang tak terelakan. Bahkan bisa jadi konsekuensi- nya dibangun sama dengan konteks bisnis sebenarnya, misalnya kelompok peserta yang mampu mencapai pulau dengan waktu dibawah yang ditetapkan, maka akan mendapatkan bonus buah-buahan segar dan lain sebagainya. Contoh lain misalnya fasilitator menggunakan kata ”pernikahan” untuk menggambarkan kegiatan ber-canoe double seater, secara tersirat fasilitator membangun nuansa bahwa keterampilan mengendalikan canoe paralel dengan dinamika hidup berkeluarga. Proses membangun ”mind” peserta sejak awal kegiatan ini, dalam teknik fasilitasi disebut sebagai isomophically framing the experience. Teknik ini mampu menyusupkan ”roh” yang menakjubkan, dan sangat efektif membawa peserta untuk lebih memaknai pengalaman belajar, dibanding dengan sekedar mengajak peserta dengan berteriak “ayo semangat”!, ”maju terus tim, jangan menyerah”!. Teknik ini juga membantu peserta merelasikan pengalaman dengan kehidupan sehari-harinya, sehingga pertanyaan ”apa sih hubungannya antara saya naik gunung atau naik tali di ketinggian dengan pekerjaan saya?”, mungkin tidak akan ditemukan. Keterampilan ini biasanya diperoleh fasilitator yang memang paham lingkungan bisnis klien-nya atau memang keseharian fasilitator tersebut bukan hanya sebagai ”jago” teori tapi juga adalah pelaku bisnis. Analisa kebutuhan training yang merupakan hasil penelitian fasilitator atau tim khusus sangat membantu praktek fasilitasi di lapangan.

Indirect Frontloading The Experience merupakan teknik fasilitasi yang cukup baru, walaupun mungkin secara sadar atau tidak sadar beberapa fasilitator pernah menerapkannya. Simon Priest dalam Using metaphors and isomorphs to enchance the transfer of learning in adventure education, Journal of Adventure Education (1993), menyebutkan bahwa teknik fasilitasi ini banyak menggunakan bahasa-bahasa hypnosis, karena memang berada pada kuadran development dan therapy. Bahkan kalau saya ingat-ingat masa kecil, rasanya sering ibu saya melakukan pendekatan ini saat membimbing saya. Sebagai contoh; Ibu rupanya mampu menduga beberapa perilaku yang akan muncul, khususnya penolakan saya atau malas-malasan saya, ketika diminta belajar mengaji di Surau dekat rumah. Maka aksi fasilitasinya pada saat-saat tertentu di lain kesempatan, beliau akan bercerita tentang seekor anak burung yang malas belajar terbang atau seekor anak burung yang sering menolak ketika diminta belajar terbang, yang pada akhirnya tidak bisa terbang. Sementara adik-adik sang burung tersebut terbang kesana kemari dengan riangnya, menjelajahi biru-nya langit. Contoh ini memang tidak benar-benar tepat, karena Ibu saya tidak bercerita di saat sebelum meminta saya belajar mengaji, tapi di waktu dan kesempatan yang berbeda. Namun proses Ibu saya yang mampu mendeteksi perilaku-perilaku yang tidak sesuai dengan keinginannya dan mampu memberikan frontloading secara tidak langsung, tetap merupakan contoh yang kontekstual.

Contoh lain, fasilitator mampu menduga bahwa di dalam simulasi spider web kecenderungan peserta laki-laki akan sering bercanda sehingga mengabaikan keselamatan peserta lainnya. Maka si fasilitator akan menyertakan cerita berikut ini di sela-sela brief-nya: ”Sebagian besar kelompok yang melakukan spider web cenderung melakukan dengan cara yang sama. Biasanya di awal peserta akan mencoba-coba tanpa menentukan ”siapa” dan menggunakan ”lubang yang mana”, sehingga waktu yang dibutuhkan akan menjadi sangat lama dan tidak efektif. Namun kemudian beberapa anggota kelompok lainnya mendapati bahwa strategi terbaik adalah membuat perencanaan terlebih dahulu, baru kemudia mengeksekusinya. Sehingga kelompok menemukan cara yang lain dalam mengatasi tantangan spider web.

Jadi jika peserta melakukan hal yang umum dilakukan sebagian besar kelompok lain, maka peserta akan menilai bahwa dirinnya jelas-jelas tidak ada bedanya dengan kelompok lain alias sama saja tidak ada inovasi atau kreativitas lain, dan hal ini sangat positif bagi peserta. Dan jika peserta melakukan hal yang berbeda, tidak sama dengan yang umum, maka hal ini juga tetap positif, karena mereka terdorong untuk berkarya lebih baik dari sebelumnya seperti yang dilakukan orang lain. Teknik ini juga dikenal dengan sebutan ”double bind, keuntungan yang bisa diraih dari sisi manapun.

Teknik fasilitasi paling high end adalah Flagging The Experience, yang dirumuskan oleh Itin, dalam Advance Facilitation of the Experiential Process. Dalam generasi ini fasiltiator menggunakan elemen-elemen bahasa hypnosis untuk membantu peserta menuju alam bawah sadar untuk menemukan solusi atas isu-isu tertentu atau tujuan tertentu. Peserta tetap diajak melakukan beberapa kegiatan yang memiliki relevansi erat dengan tujuan peserta; kemudian dengan bahasa hypnosis peserta dibantu menggunakan pengalaman tersebut sebagai akses membangun kembali bawah sadarnya sesuai dengan tujuan yang diinginkan peserta. Sebagai contoh “membawa” peserta ke dalam kondisi “trance” mampu menghilangkan ketakutan peserta terhadap ketinggian, kemudian pada kondisi sadar, secara perlahan peserta dikenalkan dan diajak melakukan olah raga panjat tebin atau turun dari ketinggian.

Referensi:

Simon Priest dan Michael Gass, Effective Leadership in Adventure Programming.

Michael Gass, Adventure Therapy: Therapuetic applications of adventure learning. Journal of Adventure Education adn Outdoor Leadership.

Christian M Itin, Advance Facilitation Techniques of the Experiential Process

Tom Smih dan Clifford C Knapp, Solo, Silence and Solitude.

Pengalaman pribadi penulis.

Read Full Post »

Menjadi Pribadi Sukses

Dr. Akrim Ridha

Manajemen diri

u Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah saw bersabda, Mukmin yang kuat itu lebih lebih baik dan lebih baik dicintai Alloh daripada mukmin yang lemah, tetapi pada masing-masingnya ada kebaikan. Bersungguh-sungguhlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu dan minta tolonglah kepada Alloh, serta jangan lemah loyo. Jika ada sesuatu yang menimpamu maka janganlah engkau berkata, ‘Seandainya aku melakukannya, maka pasti akan seperti ini dan itu’, tetapi katakanlah, ‘Alloh telah menetapkan, dan apa saja yang Dia kehendaki, pasti terjadi’, sebab kata ‘seandainya’ itu membuka tindakan setan.” (HR. Imam Muslim)

u Syaikh Al Ghazali – rahimahullah- pernah berkata; “Manusia itu ada dua, ada yang tertidur dalam cahaya dan ada pula yang bangun dalam kegelapan.”

u Sesunguhnya Alloh tidak mengubah apa yang ada pada suatu kaum kecuali mereka sendiri mengubah apa yang ada pada dirinya.” (QS. Ar-Ra’d, 13:11)

Hakikat Keimananmu
(MENGETAHUI TUJUAN HIDUP)

u Rasulullah saw pernah menanyai Harits bin Malik al Anshari ra: “Hai Harits, bagaimana keadaanmu pagi ini?”.

u Harits menjawab: “Pagi ini aku betul-betul telah beriman.”

u Rasulullah saw mengujinya. Ia bersabda, “Hai Harits, coba aku ingin melihat apa yang engkau katakan itu benar?,” Rasul meneruskan, “Setiap perkataan itu ada hakikatnya. Lalu apa bukti dan hakikat keimananmu?”

u Harits menjawab: “Diriku menjauhi dunia. Maka, aku bergadang pada malam hari. Sedang siangnya aku berlapar-lapar. Seakan-akan aku melihat Arasy Tuhan demikian terang. Dan Aku pun seakan-akan melihat ahli surga saling berkunjung, sedangkan ahli neraka meliuk-liuk kelaparan.”

u mendengar jawaban Harits tersebut, Rasulullah saw baru membenarkannya, seraya bersabda, “Hai Harits sekarang aku baru yakin. Maka, pertahankanlah.”

u Kemudian Rasululah saw memproklamirkan bahwa Harits telah sampai kepada apa yang menjadi tujuan hidupnya, seraya bersabda: “Barangsiapa yang ingin melihat ahli surga maka perhatikanlah Harits.” (HR Iman Thabrani).

MODEL ORANG SUKSES

u Surat Al Kahfi ayat 60-82 tentang pertemuan Nabi Musa as dengan seorang hamba yang shalih (Nabi Khidir as)

u Kisah perjalan nabi-nabi dalam surat Al An’am ayat 90 yaitu, “mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk, maka ikutilah petunjuk mereka.” (QA. Al An’am, 6:90)

u Tentang Nabi Ibrahim, Alloh swt berfirman: “sesungguhnya telah terdapat , bagi kamu,pada mereka itu teladan yang baik.” (QS Al Mumtahanah, 60:6)

u Abdullah bin Mas’ud ra berkata: “sungguh aku benci pada orang yang aku lihat menganggur, tak sedang melakukan aktivitas duniawi dan tidak pula sedang melakukan ibadah ukhrawi.”

u Abdullah bin Mas’ud ra berkata:

u KEKAYAAN YANG TERBAIK ADALAH KEKAYAAN JIWA.

u BEKAL TERBAIK ADALAH KETAKWAAN.

u SEJELEK-JELEK KEBUTAAN ADALAH BUTA HATI.

u DAN KESALAHAN YANG PALING BESAR ADALAH DUSTA.

u KASAB YANG PALING BURUK ADALAH RIBA

u MAKANAN YANG PALING JELEK ADALAH HARTA ANAK YATIM.

u BARANGSIAPA YANG DAPAT MENAHAN KESUCIAN DIRI – TIDAK MAKAN YANG HARAM- PASTI ALLOH MENYUCIKANNYA.

u SERTA, BARANG SIAPA YANG MAU MEMAAFKAN, PASTI DIAMPUNI ALLOH.”

LEARN

u Alloh menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan -yang berhak disembah- selain dia, Yang menegakkan keadilan, para malaikat dan orang-orang yang berilmu juga menyatakan yang demikian itu.” (QS Ali Imran, 3:18)

u Alloh mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS Al Mujadilah, 58:11)

PERSISTANCE

u Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu serta tetaplah bersiap siaga (diperbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Alloh kepada supaya kamu beruntung.” (QS Ali Imran, 3:200)

u Rasulullah saw bersabda, “Dan barangsiapa yang berusaha untuk bersabar, pasti Alloh membuatnya bersabar (dapat menahan diri).” (HR Imam Bukhari dan Muslim)

u Ibnul Qayyim menjelaskan kesabaran sebagai, “Nafs (jiwa) itu sebagai tunggangan seorang hamba untuk menuju pada kebaikan. Sedangkan kesabaran itu merupakan tali kendalinya.Jika tunggangan tidak ada kendalinya, maka ia akan pergi menggelandang kemanapun secara liar.”

u pada jiwa itu dikandung dua potensi. Yaitu potensi maju menyerang dan potensi mundur. Hakikat sabar adalah membawa dan mendorong potensi maju, atau keberanian, untuk dipergunakan pada hal-hal yang positif dan bermanfaat. Sedangkan potensi mundur untuk menahan diri dari hal-hal yang negatif dan membahayakan.”

Read Full Post »

Dalam sebuah kantor atau perusahaan, ada saja karyawan yang belum

memperoleh promosi jabatan meskipun sudah bekerja dengan tekun,

patuh, dan jujur. Semuanya telah dikerjakan sesuai dengan standar

kerja yang ditentukan.

Apa yang masih kurang?

Sebenarnya, karyawan macam ini lupa bahwa rekan-rekannya juga

melakukan hal-hal serupa. Kalau Anda termasuk di antara mereka,

cobalah kiat untuk berprestasi lebih baik berikut ini:

Bekerjalah lebih baik dari rekan-rekan Anda. Caranya, tingkatkan

efisiensi dan produktivitas kerja Anda, serta tentukan skala

prioritas dalam bekerja.

Perbesar daya kerja Anda dengan menghadapi pekerjaan dengan sikap

mental positif dan perhatian penuh.

Bekerjalah lebih kreatif.

Lakukan penyesuaian diri dengan perubahan yang terjadi. Jangan

terkejut bila sewaktu-waktu terjadi perubahan.

Tingkatkan wawasan serta keterampilan dalam bekerja dan berpikir.

Jangan mudah puas dengan hasil kerja yang telah dicapai.

Lakukan evaluasi terhadap hasil kerja Anda dan berikan tantangan

untuk menghadapi tugas lebih berat.

Kepuasan kerja akan diperoleh bila Anda mampu menyelesaikan tugas

dengan mudah, benar, cepat, dan tepat. Kondisi ini meningkatkan

semangat kerja, sehingga memperbesar daya kerja. Akhirnya, Anda akan

lebih menguasai, efisien, produktif, dan terampil dalam

bekerja. (Intisari)

Life for Success

Read Full Post »

Berpikir Positif

Percaya atau tidak, sikap kita adalah cermin masa lampau kita, pembicara
kita di masa sekarang dan merupakan peramal bagi masa depan kita. Maksudnya
apa ? Ya, bahwa kondisi masa lalu, sekarang dan masa depan kita dapat
tercermin dari bagaimana sikap kita sehari-hari. Camkan satu hal, sikap kita
merupakan sahabat yang paling setia, namun juga bisa menjadi musuh yang
paling berbahaya.

Bagaimana sikap mental kita adalah sebuah pilihan; positif ataukah negatif.

W.W. Ziege pernah berkata.”Tak akan ada yang dapat menghentikan orang yang
bermental positif untuk mencapai tujuannya. Sebaliknya, tak ada sesuatupun
di dunia ini yang dapat membantu seorang yang sudah bermental negatif.

Jika kita seorang yang berpikiran positif, kita pasti mampu menghasilkan
sesuatu. Kita akan lebih banyak berkreasi daripada bereaksi. Jelasnya, kita
lebih berkonsentrasi untuk berjuang mencapai tujuan-tujuan yang positif
daripada terus saja memikirkan hal-hal negatif yang mungkin saja terjadi
dalam kehidupan kita sehari-hari.

Kehidupan dan kebahagiaan seseorang tidaklah bisa diukur dengan ukuran gelar
kesarjanaan, kedudukan maupun latar belakang keluarga. Yang dilihat adalah
bagaimana cara berpikir orang itu. Memang kesuksesan kita lebih banyak
dipengaruhi oleh cara kita berpikir.

Ingat perkataan Robert J. Hasting, “Tempat dan keadaan tidak menjamin
kebahagiaan. Kita sendirilah yang harus memutuskan apakah kita ingin bahagia
atau tidak. Dan begitu kita mengambil keputusan, maka kebahagiaan itu akan
datang”.

Dengan bersikap positif bukan berarti telah menjamin tercapainya suatu
keberhasilan. Namun, bila sikap kita positif, setidak-tidaknya kita sudah
berada di jalan menuju keberhasilan. Berhasil atau tidaknya kita nantinya
ditentukan oleh apa yang kita lakukan di sepanjang jalan yang kita lalui
tersebut.

Dari beberapa buku yang saya baca beberapa tips berikut terbukti cukup
membantu. Cobalah untuk menjalankan kegiatan-kegiatan berikut ini sebanyak
mungkin dalam hidup kita. Sebagaimana untuk mencapai hal-hal lainnya, untuk
menjadi seorang yang berpikiran positif, prosesnya harus dilakukan secara
terus-menerus :

1. Pilihlah sebuah kutipan yang bernada positif setiap minggunya dan
tulislah kutipan tadi pada selembar kartu berukuran 3 x 5. bawalah kartu
tadi setiap hari selama seminggu. Baca dan camkanlah kutipan tadi secara
berkala dalam sehari dan jadikan afirmasi, misalnya di meja kerja Anda, di
dashboard mobil, atau di cermin kamar mandi. Jadikanlah setiap kutipan
tersebut bagian pemikiran Anda selama seminggu itu.

Contoh :
“Seorang pemimpin yang baik adalah yang bisa membesarkan semangat dan
harapan-harapan kepada anak buahnya.” (Napoleon Bonaparte). “Hari ini saya
ingin menolong orang sebanyak mungkin” (Harry Bullis)

2. Pilihlah seseorang yang dalam hidup Anda yang Anda anggap berpikiran
negatif. Cobalah cari hal-hal yang positif dalam diri orang itu dan ubahlah
pikiran-pikiran negatif Anda mengenai orang tersebut dengan hal-hal positif
tadi. Sebagai orang beragama, tolong doakan pula orang tersebut dengan
hal-hal positif tadi dan mohonlah agar Tuhan menolongnya.

3. Pilih satu hari istimewa dalam seminggu dan jadikanlah hari itu sebagai
“hari 10¡í. Bangunlah pada pagi hari dan yakinlah bahwa setiap orang yang
akan Anda temui bernilai “10¡í, dan perlakukanlah mereka secara demikian.
Anda pasti akan heran sendiri melihat tanggapan yang akan Anda peroleh dari
orang-orang yang selama ini Anda anggap remeh.

4. Tandai suatu hari dalam seminggu sebagai “hari berpikiran positif.”
Hapuslah kata-kata “tidak dapat,” “tidak pernah,” atau kata-kata lain yang
senada, usahakan agar Anda menemukan cara untuk mengatakan apa yang bisa
Anda lakukan.

5. Paling tidak sekali dalam seminggu, carilah suatu kesempatan untuk bisa
memberi kepada orang lain dengan tulus. Lakukanlah suatu yang khusus pada
suami/istri ataupun anak-anak Anda. Berbuatlah suatu kebaikan pada seseorang
yang belum Anda kenal.

Siapa yang ingin sukses ?

Kuncinya jangan pernah sekali-kali berpikiran negatif !
Buang jauh-jauh hal-hal negatif; juga kalimat-kalimat negatif dari pikiran
Anda !

Jangan pernah ada lagi kalimat-kalimat seperti :

“Pasti gagal;
Kami belum pernah melakukannya;
Kami tak sanggup melakukannya;
Saya belum siap melakukannya;
Itu bukan tanggung jawab kami; dan sebagainya”.

Selamat mencoba, dan ¡Ä¡Ä¡Ä¡Ä¡Ä¡Ä¡Ä¡Ä¡Ä¡Ä¡Ä¡Ä¡Ä¡Ä¡Ä¡Ä.
SEMOGA sukses senantiasa bersama kita yang selalu berusaha maksimal
menggapainya.

Read Full Post »