Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Momen Unik’ Category

Proyek “Prambanan”

Kisah ini sudah cukup lama, bahkan saya lupa tanggalnya….

Kisah ini bermula dari sebuah sms permintaan bantuan untuk mempersiapkan stand KTA di acara PKS yang diadakan di GOR Bandung. Sabtu malam, saya sampai di DPD PKS Bandung, Jln Kinanti no.7. Di sana sudah ada Kang Hartanto sebagai penanggung jawab stand KTA di acara besok, dan Kang Pras yang juga datang dengan kepentingan yang sama….

KTA-nya keren lho…. model ATM. Seperti ini nih (ini model contohnya):

kartu-anggota-konvert-coy

Beberapa hal coba disiapkan, mulai dari bahan KTA, pembuatan kuitansi penerimaan KTA, sampai dengan latihan mencetak KTA !!! jadi kita cetak sendiri… manual !

Kang Hartanto mulai memberi komando…

“Surya bikin kuitansi ya…, Pras siapin alat dan bahan”

“Emang cetaknya nanti pake apa kang?” tanya saya.

“Tuh alatnya…” Kang Har -begitu saya akrab memanggil beliau- menunjuk ke arah sudut ruangan. wow, ini alat yang biasa saya lihat di tempat fotokopi…. buat laminating….

“Yang ini buat laminanting, nah motongnya pake ini…” Kang Har menunjukkan alat pemotong berwarna hijau yang kecil namun ukurannya benar-benar tidak mencerminkan beratnya. Wah, cara tradisional…. gak canggih! maklum lah… PKS kan gak punya banyak duit… namanya juga PKS, Partai Kantong Sendiri ^_^ he he he….

Setelah salat Isya, saya coba selesaikan pembuatan nomor urut dan kuitansi penerimaan KTA serta papan nama stand. Setelah itu, masalah baru muncul. Bagaimana masalah pendataannya nanti ?! Sistem databasenya belum ada !

“Siapa kira-kira Sur, yang bisa nih… bikin database buat besok?” Tanya Kang Pras….

Kami berpikir…. berpikir… menimang-nimang… mencari nama….

AHA…!!!!

“Panggil Roni!”

Nur Roni Dinurrohman, mahasiswa Teknik Informatika Unpas 2005, teman kami di Karisma, terbesit dalam benak kami. Kami telepon dan beliau menyanggupi…. Alhamdulillah….

Malam hari semakin larut…. kami pun bagi tugas. Kang Pras dan Roni menyelesaikan sistem database (bayangkan, malam di atas jam 9 baru dibuat dari nol! pake SQL). Saya dan Kang Har mencoba alat-alat berat untuk membuat KTA. Prosesnya sebenarnya cukup sederhana. Kita print di kertas khusus sesuai kebutuhan, kita tempelkan pada kertas khusus yang lainnya.  Masukkan ke mesin laminating. Setelah itu, keluar satu kertas besar yang berisi sekian KTA. Tinggal dipotong deh di alat potong… Tapi namanya pemula… biar besok nggak gagal, harus latihan berkali-kali….

Malam itu menjadi malam lembur yang sama sekali tidak direncanakan. Banyak kejadian yang terjadi. Bermula dari kertas yang kusut saat dimasukkan ke dalam mesin laminating. Hal ini membuat saya dan Kang Har harus membongkar mesin itu. Padahal kami belum pernah sama sekali melakukannya. PRANG! begitu kami buka, beberapa komponen di dalamnya jatuh berserakan…. GLEK… gimana nih…. mesin cuma satu, waktu tinggal kurang dari 8 jam lagi… Kalau mau beli alat baru, uang tidak ada, toko tidak mungkin buka…. (saat itu sekitar jam 1 pagi). Hwa…!!! bagaimana ini!!!

Kami mencoba bersabar, merenung, memperhatikan isi mesin itu sedikit-demi sedikit…. mencoba menerka-nerka letak dan fungsi beberapa komponen yang jatuh berserakan tadi. Jumlah komponen berserakan yang cukup banyak membuat saya dan Kang Har cukup kewalahan. Coba pasang sini, bongkar situ, pasang situ, bongkar sini, salah, salah, salah lagi….. Maklum lah…. Saya dan Kang Har gak ada yang pernah belajar sebagai tukang fotokopi…. basic kami juga bukan masalah memperbaiki yang beginian… (Saya Teknik Industri 2005, Kang Har Fisika 1991, ITB semua)…

Sementara itu, di tempat Roni dan Kang Pras, terjadi kekacauan yang sama. Sistem database yang proses pembuatannya rumit membuat mereka mengucurkan keringat yang tidak sedikit. Masalahnya sudah H-sekian jam, dan harus diburu! Roni yang membuat SQL-nya dibuat kewalahan dengan sistemnya yang beberapa kali tidak cocok dengan codingnya.

Kembali ke tim “percetakan”. Kami masih mengotak-atik alat itu selama beberapa jam…. setelah melewati proses yang begitu susah payah, samapi harus memperlajari seluk beluk isi dan fungsi tiap komponen di mesin laminating, akhirnya kami berhasil! mesinnya bekerja kembali dengan baik! alhamdulillah….

Latihan bisa kami lanjutkan… ya… latihan mencetak kartunya…. sampai pagi, kami salat subuh berjama’ah di masjid dekat DPD. Setelah itu, semua peralatan kami siapkan di ruang tengah untuk diangkut ke mobil. Kami berangkat ke GOR Bandung dalam kondisi semalam suntuk tidak tidur… fuh… jihad memang berat kawan….

Sesampainya di GOR, saya selaku tim pendahulu mulai menyusun stand KTA, memasang papan nama, mengatur meja, posisi laptop, dsb. Stand KTA berada di lapangan parkir GOR, di luar gedung. Seperti biasanya pada acara-acara PKS, di lapangan luar banyak berkumpul stand-stand yang menjual produk-produk partai dan buku-buku serta kaset dan CD islami. Kerja kami pun dimulai. Banyak kader berdatangan ke stand kami, mengantri untuk dibuatkan KTA. KTA yang sekarang modelnya baru, lebih keren, lebih awet, seperti model ATM. Satu-persatu kami ambil fotonya. Di tengah proses, masalah baru muncul… printernya macet !

Dari pagi sampai menjelang siang kami sibuk dengan usaha memperbaiki printer. Cukup aneh, karena printer itu adalah printer yang kami pakai untuk latihan di DPD. Begitu printer bisa, hasil yang keluar belepotan…. hweh…. piye iki rek…. Saat siang, banyak kader-kader yang datang meminta hasil KTA-nya, dan dengan permohonan maaf belum bisa kami selesaikan. Akhirnya, kami kembali tanpa mencetak satu KTA pun… hiks….

Beberapa minggu berselang, banyak kawan-kawan yang menanyakan kepada saya hasil KTA-nya. Belum… jawab saya. Suatu hari saya konfirmasi ke Kang Har, katanya sudah 60 % jadi… alhamdulillah…

“Kalo bagian saya gimana, Kang?” tanya saya…. “bagian” maksudnya KTA lho… bukan duit….

“Datang aja sendiri ke DPD, print sendiri, cetak sendiri, kan udah bisa” jawab Kang Har…

“Ok kang…”

beberapa hari berselang, saya bertanya ke Kang Har, kapan saya bisa ke DPD buat mencetak sendiri KTA saya….

“Kapan aja boleh, tapi sur, afwan… bahan KTA yang kemarin sudah habis…. dan sepertinya tidak akan beli lagi…. jadi kalaupun surya cetak KTA, modelnya sudah bukan seperti yang kemarin lagi, tapi model lama….”

Model lama…. yang di kertas terus dilaminating…. hu…. hiks…. gak jadi deh punya KTA model ATM….

hiks….

By The Way, walaupun penuh kegagalan, semoga Allah menilai usaha kami dengan Ridha-Nya…. amin….

Read Full Post »

Pesta Sate di Rumah Jaka

“Bro… malam bujang lagi yuk di rumah Jaka… pesta sate!!!”

Begitulah bunyi SMS yang masuk pada HP saya malam itu, dua hari setelah Idul Adha….

Saat itu, saya sedang ada di rumah kost bersama Yahdi yang berencana menginap.

“Ditunggu di Madtari… kita berangkat dari sini… cepetan!!!” bunyi SMS yang kembali masuk dari Rihan.

“Jemput aja kami disini…. kalo kami kesana lama, pake angkot, terus jalan kaki lagi…” balas saya.

“OK…. kita kesana” balas Rihan Lagi.

Beberapa menit kemudian, datanglah Rihan bersama Husna, menjemput kami berdua. Tidak lama setelah itu, kamipun berangkat ke rumah Jaka, yang selama ini menjadi “markas” kami.

Di rumah Jaka, Kami bagi-bagi tugas. Ada yang menusuk daging dengan tusuk sate, ada yang menyiapkan tungku pembakaran, ada yang cuma bengong melihat… (nah loh…). Total jumlah daging yang tersedia ada sekitar 30an tusuk sate. Semua siap, tinggal dibakar!!!

“Sur… kamu kan dari surabaya… deket tuh ama madura…” celetuk Jaka. Yah…. langsung ketangkep maksudnya supaya saya yang ngipasin sate yang dibakar, ala tukang sate madura gituh…. saya sih ayo aja…

Pembakaran dimulai dengan menuangkan minyak, syur…. segar….. nyalakan apinya… bush….! gedhe banget!

“minyaknya kebanyakan sur!” kata Jaka. Yah… namanya juga pemula…

Api yang terlalu besar membuat hasil pembakaran awal gosong! bahkan ada yang tusuk satenya putus gara-gara apinya terlalu panas. Putus karena terbakar maksudnya…. Alhamdulillah… lama kelamaan hasilnya makin baik… itung-itung modal kerja nanti kalo belum dapet kerjaan… he he…

Begitu selesai… pesta dimulai !!!! kami bagi satenya, kami ambil nasinya… tersedia dua piring untuk 5 orang.

“Rihan sepiring ama Surya aja…. sama-sama jagoan makan” Kata Jaka dan Yahdi. Husna seperti biasa, mengangguk setuju aja…. Satu piring untuk Yahdi, Husna dan Jaka, satu piring untuk saya dan Rihan…

nyam…nyam… hm…. wow… gule kambing tiba! menunya tambah lagi…. wah… alhamdulillah…

-ti….t- (sensor, ntar pada ikut laper lagi)

Fuh…. habis…

“Mau bakar lagi nggak? ronde 2… masih ada lho!”

“Bakar!!!”

Pembakaran daging ronde 2 dimulai. Teknisnya sama, hanya saja jumlahnya lebih sedikit. Begitu sudah jadi, kami memakannya tanpa nasi, karena khawatir kenyang.

Agenda berikutnya… tidur..! kamipun menginap di rumah Jaka, menikmati indahnya malam, demi menyimpan energi untuk aktivitas esok hari…

Read Full Post »

Surya VS Sapi

Sebuah arena matador Indonesia !

Bertempat di lapangan samping SMAN 1 Bandung….

Berawal dari prosesi pemotongan hewan qurban dengan damai…. karena yang dipotong awal2 adalah domba dan kambing. Gampang ngatasinnya!

satu…. dua…. sekian domba…..

saya bahkan kebagian mem”bantai” 3 ekor domba… wow! pengalaman yang mengesankan untuk seorang pemula!!!

“Sekarang sapi pak yang dipotong…”

Ditariklah sapi satu ekor menuju “lubang buaya”. Awalnya sang sapi menurut saja. begitu dekat dengan wilayah eksekusi…. sang sapi mulai memberontak. Kaki menendang-nendang…. kepala menggeliat-geliat…. sang sapi berlari ke arah kerumunan seakan mau menanduk warga yang sedang berkumpul…. (padahal tanduknya kecil ke arah belakang… sombong amat tuh sapi!).

“Pegang talinya pak!”

para pahlawan pemberani mulai berlari menuju sapi yang hiperaktif itu. satu-persatu memegang tali yang sudah diikatkan di kaki sang sapi. para superhero ini berlari kesana kemari, menghindari tatapan sang sapi. Saat sang sapi menoleh ke arah salah satu dari para jagoan, mereka berlari ke arah samping. Sang sapi pun sempat berhasil melepaskan diri, hingga tangan salah satu jagoan terluka akibat gesekan tali tambang yang dipegangnya hingga terlepas karena kalah dengan tenaga sapi. Para jagoan pun mengejar, menyudutkan sapi tersebut, berkejar-kejaran diantara pohon yang ada. Begitu terus hingga sang sapi mulai lelah.

“Tahan kepalanya !”

“Silangkan talinya !”

“Tarik !!!!!”

Sang sapi jatuh tersungkur, sambil meronta-ronta….

“SURYA !!!! DUDUK !!!!”

Salah satu jagoan, yang tangannya terluka tadi, langsung duduk di atas tubuh sang sapi, membuat sang sapi makin tidak berkutik, sehingga yang lainnya leluasa memasang kayu pada kaki sang sapi dan mengikatnya pada kaki sapi. Jagoan yang duduk di atas sapi tadi terus bertarung dengan sapi yang meronta. Sang jagoan bagaikan merasakan gempa dasyat merasakan tubuh sang sapi yang bergoyang-goyang memberontak. Akhirnya setelah beberapa lama, sang sapi menyerah dan pasrah akibat lelah, dan dimulailah pembantaian yang sudah ditunggu-tunggu…..

Untuk beberapa sapi kedepan, jagoan tadi terus mendapatkan peran yang sama, menduduki sapi !

“Untung ada Surya, kalo enggak, bisa pada lari tuh semua sapi…!” Komentar salah satu panitia…

“Kalo Surya udah duduk, KO lah sapinya, tinggal diinjak beres !” Komentar panitia yang lain…

“Sur, aku benar2 tidak menyesal membawamu kesini….” Kata salah seorang sahabat saya yang mengajak saya jadi panitia….

Tampaknya, untuk beberapa tahun kedepan, Jagoan ini akan menjadi langganan untuk tugas yang sama…

“MENDUDUKI SAPI”

-Idul Adha 2008-

Read Full Post »

Balada “Calon Pengantin”

Hari itu adalah hari yang dingin…. tepatnya tanggal 3 Agustus 2008. Hari itu sekaligus menjadi hari yang menegangkan, karena hari itu dimulai proses pemilihan ketua KARISMA ITB untuk periode 28, yang bertempat di cijanggel. Malam tiba. dipanggillah para calon ketua yang sudah melewati berbagai proses verivikasi sebelumnya. Berbagai pertanyaan pun dilontarkan kepada para calon, hingga pada sebuah pertanyaan yang luar biasa…

“Apakah anda secara pribadi bersedia menjadi ketua KARISMA? jika tidak, sebutkan alasannya…”

“bersedia”

“bersedia”

“bersedia”

“tidak bersedia”

!!!!?

“Apa alasannya?” sang penanya heran

“dalam life plan saya, saya berencana menikah tingkat 3, dan sudah tertunda setahun. Saya berencana merealisasikannya di tingkat 4 kuliah saya, dan saya khawatir akan mendzholimi amanah saya saat saya menjabat dalam kondisi sudah menikah nantinya…”

spontan seisi ruangan kaget, mendengarkan pernyataan terbuka dan terang-terangan dari pembina yang satu ini, apalagi menyangkut hal yang cukup privasi.

Proses pun berlanjut, tanpa ada yang digugurkan, karena keputusan gugur atau tidaknya suatu calon adalah keputusan forum. Proses pemilihan berlangsung lama dan alot. Mulai setelah isya, hingga lewat subuh, ketua baru nelum terpilih. Setelah melalui proses eliminasi satu persatu, tinggallah dua orang calon yang tersisa, dan salah satunya adalah pemuda tadi…. uniknya, dua orang yang tersisa adalah dua orang yang sama-sama menyatakan tidak bersedia menjadi ketua!

Proses pemilihan antara dua calon ini tetap berlangsung sengit. Masing-masing kubu pendukung menyampaikan argumen masing-masing, dan tidak ada yang mau kalah. Dua orang calon yang tersisa hanya bisa duduk menunggu keputusan, hingga pimpinan sidang memanggil kedua calon tersebut…

“Mari kita tabayyun ke keduanya” kata sang pimpinan sidang…

“Akan saya tanyakan kembali, apakah anda bersedia menjadi ketua?”

kedua calon masih menyatakan tidak.

“Saya berencana menyegerakan untuk menikah, tingkat 4 sekarang” kata pemuda tadi menegaskan kembali.

“Lalu, jika forum memilih anda, apa rencana anda?” Tanya salah satu peserta forum.

“Ya… terpaksa, saya menunda rencana menikah saya setahun lagi…” Jawab sang pemuda.

Lewat proses tabayyun yang singkat, akhirnya calon satuna melunakkan diri, bersedia menjadi ketua, dan akhirnya terpilihlah Hari Solagratia Sinuhaji sebagai ketua KARISMA ITB periode 28 lewat kesepakatan forum, karena dari jawaban pada proses tabayyun, pendukung sang pemuda tadi melunakkan keinginannya.

Dan, pemuda itu, adalah saya…..

Dan akhirnya, saya tidak menjadi ketua KARISMA ITB….

19 Oktober 2008, Diadakan pemilihan ketua Fasilitator Club PAR Daarut Tauhiid. Lewat proses verifikasi, dan kesepakatan forum, saya pun menjadi salah satu diantara 3 calon ketua.

“Apakah anda bersedia menjadi Ketua FC (Fasilitator Club)?

“Tidak” jawab saya….

“Bisa ungkapkan alasannya?”

“Saya berencana untuk menikah dalam waktu dekat, dan proposal menikah saya sudah masuk seminggu lalu untuk diproses dengan seseorang. Saya khawatir akan mendzholimi amanah saya jika saya memegang amanah ketua dalam kondisi sudah berkeluarga nantinya”.

Pertanyaan yang sama pun diajukan kepada calon yang lain. Satu bersedia, dan satu lagi tidak. Namun karena suatu hal, yang bersedia pun tidak bisa menjadi ketua FC.

“Setuju jika akh Surya yang menjadi ketua” kata salah satu calon.

“Betul, setuju…” kata calon yang lain.

Sebagian besar peserta forum pun setuju untuk memilih saya sebagai ketua FC yang baru. Namun, saya tegaskan kembali bahwa saya akan menikah dalam waktu dekat, dan jawaban mereka…

“Tenang aja Kang Surya, kalo perlu, nanti pas walimahan, di tempat walimahnya kita pilih lagi ketua yang baru. Yang penting sekarang Kang Surya yang jadi ketua….” celetuk salah satu peserta forum.

“Ya, setuju!” balas peserta yang lain, dan peserta forum pun setuju secara bulat…. dan saya pun tidak dapat berkata apa-apa lagi…..

Heran, di KARISMA, rencana menikah yang realisasinya belum terlihat, bisa menjadi “senjata” saya untuk menolak jadi ketua. Tapi di FC, realisasinya yang sudah terlihat (proposal udah masuk seminggu gitu loh…) sama sekali tidak mempan….

fuh…. semoga Allah SWT memberiku kekuatan…..

Read Full Post »

Tragedi 25 Desember 2006

25 Desember 2006, menjadi hari yang benar-benar tak terlupakan dalam hidup saya. saat itu, saya dan teman-teman dari Karisma ITB akan menghadiri pernikahan pembina Karisma ITB yang dilangsungkan di bekasi. kami berangkat sekian rombongan (lupa), dan rombongan saya berada paling belakang. Perjalanan berlangsung lancar-lancar saja. pukul 08.30, saya yang dalam kondisi tidur dikejutkan bergoncangnya mobil yang kami naiki dengan hebat terguling dan berputar berkali-kali ke sebelah kanan, membuat saya terbentur ke atas berkali-kali dengan kesadaran 100 % ! (waktu itu cuma bisa pasrah…).

Beberapa saat goncangan itu berhenti. Saya sadar bahwa kami mengalami kecelakaan di tol cikarang arah menuju bekasi. Mobil ringsek, semua kacanya hancur. Saya keluar dengan segera, khawatir mobilnya meledak seperti yang biasa terjadi di film-film laga (BEUGH… kebanyakan nonton film). Saya lihat beberapa kawan sudah ada di luar. Salah satu dari kami dikeluarkan dari mobil dengan kondisi yang… !!!! kepalanya mengeluarkan darah yang cukup banyak. Untungnya pos keamanan tidak jauh dari sana. Bantuan dari rumah sakit segera datang. setelah didiagnosa, 5 dari 10 penumpang harus dirawat di rumah sakit.

Bukan anak Karisma kalau tidak “bikin onar”. Di rumah sakit, bukannya suasana duka yang terjadi. Malahan kami-kami yang dirawat satu kamar ributnya buan main Ketawa-ketiwi tidak jelas… (heh.. 😦 ). Dani Badra, yang tadi kepalanya banyak mengeluarkan darah, masih bisa aneh-aneh. Pas ditanya “Badra… gimana keadaannya?!”, dengan santai menjawab,”Buku So Hok Gie saya mana…”. Glodak! memang saat di mobil dia lagi asyik baca itu. Huh… masih aja sempet kepikiran. Ada lagi, Ismail, teman kami yang paling gemuk, mengalami patah tulang selangka, saat ditanya,”Mail, gimana keadaannya?”, dengan polosnya menjawan,”ng… laper… mau sate…”. Hah… saat 3 dari kami dirawat di kamar yang sama (Hendra: tulangnya ada yang bergeser, Ismail: patah tulang selangka, Saya: gegar otak ringan), kami hepi-hepi aja. Begitu rombongan lain datang, sangat tampak wajah panik di muka mereka… belum tahu mereka kalo kita hepi-hepi… dasar bocah-bocah Karisma!

L ho…. judulnya kan tragedi? kok jadi ceria? ah… sudahlah! yang penting nulis…

oh iya, ada satu hal lagi yang cukup menarik. Waktu kecelakaan, saya sedang membaca (dan tertidur) buku berjudul MANAJEMEN KEMATIAN karya Khozin Abu Faqih…. langsung dapat prakteknya dari Allah SWT… walau nggak sampai ajal…. jadi makin mudah ingat mati….

Read Full Post »

Hidungku…..

Saat itu kelas 1 SMA, sedang aktif-aktifnya ikut ekskul Tae Kwon Do . Suatu hari, seperti biasa kalo latihan…. pasti ada sesi pertarungan. Pas lagi seru-serunya bertarung, lawan saya memutar badan sehingga berpindah secara cepat ke belakang saya. Belum sempat saya berbalik, sebuah kaki tanpa alas melayang ke muka… KRAK !!!!!

Jadilah… selama lebih dari satu bulan (patah hidungnya tidak terlalu parah) saya semakin cakep dengan perban di hidung saya…. ada-ada saja….

kalo sahabat perhatikan, hidung saya saat ini tidak benar-benar lurus. yah… hitung-hitung ada kenang-kenangan dari Tae Kwon Do…

Read Full Post »