Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Fiqh’ Category

Qunut Subuh

Qunut Shubuh termasuk /khilafiyah furu’iyah/ (perbedaan dalam masalah
cabang) yang terjadi karena banyak factor, seperti perbedaan dalam
menilai keshahihan hadits dan lain-lain. Oleh karena itu menyikapinya
dengan bijak adalah sebuah keharusan ummat Islam, apalagi akhir-akhir
ini, gesekan diantara sesama muslim bisa terjadi hanya pasal masalah
yang sangat sepele.
Bahwa meninggalkan sebuah sunnah demi kepentingan yang lebih besar dan
mendesak lebih baik daripada hanya memperdebatkan masalah /furu’iyah/,
sikap inilah yang diwariskan oleh generasi salafus shalih untuk kita
hari ini, seperti ini juga menjadi pilihan yang diambil oleh Syaikh
Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin /-rahimahullah-/ dalam kitabnya Durus
wa Fatawa fi al-Haram al-Makki.
Adapun terkait masalah qunut Shubuh, sikap yang terbaik bagi ma’mum
adalah ikut mengangkat tangan juga dan mengaminkan do’a qunut, sekalipun
qunut dalam pandangan simakmum termasuk perkara bid’ah yang harus
ditinggalkan.
Alasannya:

1. Dalam shalat fardhu, dilarang duduk bagi yang mampu berdiri,
karena berdiri hukumnya wajib, berdasarkan firman Allah:
“Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu.” (QS.
al-Baqarah ayat 238), tetapi berdiri yang hukumnya wajib menjadi
tidak wajib (sekalipun makmum mampu berdiri) kalau shalat imamnya
duduk. Jadi, kewajiban berdiri gugur karena alasan ikut imam,
demikian pula yang bid’ah menjadi hilang, karena kewajiban
mengikuti imam harus diutamakan, Sesuai hadits Rasulullah:
/Sesungguhnya keberadaan imam adalah agar diikuti. Bila ia
bertakbir maka bertakbirlah. Bila ia ruku’ maka ruku’lah. Bila ia
membaca sami’ Allahu liman hamidah, katakanlah Rabban wa lakal
hamd. Bila ia sujud maka sujudlah. Bila ia shalat duduk maka
susuklah kalian semuanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)/
2. Ketika Utsman bin Affan, khalifah al-rasyid yang ketiga, berada di
Mina dalam rangkaian ibadah haji, beliau melakukan shalat dzuhur
dan ashar masing-masing empat rakaat. Melalui riwayat Bukhari
(2:563) dan Muslim (1:483), Abdurrahman ibnu Yazid mengatakan
bahwa ketika dia menyampaikan kabar ini kepada Abdullah Ibnu
Mas’ud, dia menjawab /”inna lillahi wa inna ilaihi rajiun”./ Bagi
Ibnu Mas’ud, peristiwa itu adalah musibah karena dia menganggap
bahwa Utsman sudah meninggalkan sunnah Rasulullah dan tradisi Abu
Bakar dan Umar. Ibnu Mas’ud menegaskan, “Aku shalat (dzuhur dan
ashar) bersama Rasulullah di Mina dan beliau shalat dua rakaat.
Aku shalat bersama Abu Bakar di Mina dan beliau juga shalat dua
rakaat. Aku shalat bersama Umar di Mina juga dua rakaat.”

Akan tetapi menarik untuk mencermati sikap Ibnu Mas’ud belakangan.
Menurut Al-A’masy, Ibnu Mas’ud ternyata shalat dzuhur dan ashar di Mina
empat rakaat juga. Ketika ditanyakan kepadanya bahwa dia pernah
menyampaikan hadits bahwa Rasulullah Saw, Abu Bakar dan Umar shalat di
Mina dua rakaat, ia menjawab, “Memang benar. Aku sampaikan lagi kepada
kalian hadits itu sekarang. Akan tetapi Utsman sekarang adalah Imam dan
aku tidak akan menentangnya. “/Wal khilafu syar”/ – semua pertengkaran
itu buruk”. Nah, perbuatan Utsman yang dianggap menyelisihi Rasulullah,
Abu Bakr dan Umar, tetap tidak membuat shahabat ingin memperlihatkan
perbedaan dari imam (Seperti yang banyak kita dapatkan hari ini,
pokoknya sunnah sekalipun gerakannya berbeda dengan gerakan imam)
semuanya mengedepankan kefahaman mereka akan Islam dengan mengikuti
gerakan sang imam.
Dari dua alasan diatas, alangkah bijaknya setiap kita mengedepankan
kesatuan umat dari pada mencari celah perbedaan yang tidak akan selesai
sampai hari kiamat. Bahwa bersatu itu adalah kewajiban ummat Islam
sedangkan bercerai berai dan bermusuhan adalah perbuatan dosa.
Wallahu a’lam.

Asatidz Sharia Consulting Center Kota Batam

Read Full Post »

Tabir Ruangan

Pertanyaan:

ustadz, mohon dalil tentang pensyariatan hijab ruangan (tabir) dan apakah ada perselisihan pendapat di antara para ulama tentang hal ini?

Qafqa

Jawaban:

Assalamu `alaikum Wr. Wb.

Bismillahirrahmanirrahiem. Alhamdulillahi Rabbil `Alamin. Wash-shalatu Was-Salamu `alaa Sayyidil Mursalin. Wa ba`d,

Memang para ulama berbeda pandangan tentang kewajiban memasang tabir antara tempat lak-laki dengan tempat wanita. Yang disepakati adalah bahwa para wanita wajib menutup aurat dan berpakaian sesuai dengan ketentuan syariat. Juga sepakat bahwa tidak boleh terjadi ikhtilat (campur baur) antara laki dan wanita. Serta haramnya khalwah atasu berduaan menyepi antara laki-laki dan wanita.

Sedangkan kewajiban untuk memasang kain tabir penutup antara ruangan laki-laki dan wanita, sebagian ulama mewajibkan dan sebagian lainnya tidak mewajibkan.

1. Pendapat Pertama : Yang Mewajibkan Tabir

Mereka yang mewajibkan harus dipasangnya kain tabir penutup ruangan berangkat dari dalil baik Al-Quran maupun As-Sunah

a. Dalil Al-Quran :

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak, tetapi jika kamu diundang maka masuklah dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi lalu Nabi malu kepadamu , dan Allah tidak malu yang benar. Apabila kamu meminta sesuatu kepada mereka, maka MINTALAH DARI BELAKANG TABIR. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti Rasulullah dan tidak mengawini isteri-isterinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar di sisi Allah.(QS. Al-Ahzab : 53)

Ayat tersebut menyatakan bahwa memasang kain tabir penutup meski perintahnya hanya untuk para isteri nabi, tapi berlaku juga hukumnya untuk semua wanita. Karena pada dasarnya para wanita harus menjadikan para istri nabi itu menjadi teladan dalam amaliyah sehari-hari. Sehingga kihtab ini tidak hanya berlaku bagi istri-istri nabi saja tetapi juga semua wanita mukminat.

b. Dalil As-Sunnah

Diriwayatkan oleh Nabhan bekas hamba Ummu Salamah, bahwa Rasulullah s.a.w. pernah berkata kepada Ummu Salamah dan Maimunah yang waktu itu Ibnu Ummi Maktum masuk ke rumahnya. Nabi bersabda: “pakailah tabir”. Kemudian kedua isteri Nabi itu berkata: “Dia (Ibnu Ummi Maktum) itu buta!” Maka jawab Nabi: “Apakah kalau dia buta, kamu juga buta? Bukankah kamu berdua melihatnya?”

2. Pendapat Kedua : Yang Tidak Mewajibkan

Oleh mereka yang mengatakan bahwa tabir penutup ruangan yang memisahkan ruangan laki-laki yang wanita itu tidak merupakan kewajiban, kedua dalil di atas dijawab dengan argumen berikut :

a. Dalil AL-Quran

Sebagian ulama mengatakan bahwa kewajiban memasang kain tabir itu berlaku hanya untuk pada istri Nabi, sebagaimana zahir firman Allah dalam surat Al-Ahzab : 53.

Hal itu diperintahkan hanya kepada istri nabi saja karena kemuliaan dan ketinggian derajat mereka serta rasa hormat terhadap para ibu mukimin itu. Sedangkan terhadap wanita mukminah umumnya, tidak menjadi kewajiban harus memasang kain tabir penutup ruangan yang memisahkan ruang untuk laki-laki dan wanita.

Dan bila mengacu pada asbabun nuzul ayat tersebut, memang kelihatannya memang diperuntukkan kepada para istri nabi saja.

b.Dalil Sunnah

Kalangan ahli tahqiq (orang-orang yang ahli dalam penyelidikannya terhadap suatu hadis/pendapat) mengatakan bahwa hadits Ibnu Ummi Maktum itu merupakan hadis yang tidak sah menurut ahli-ahli hadis, karena Nabhan yang meriwayatkan Hadis ini salah seorang yang omongannya tidak dapat diterima.

Kalau ditakdirkan hadis ini sahih, adalah sikap kerasnya Nabi kepada isteri-isterinya karena kemuliaan mereka, sebagaimana beliau bersikap keras dalam persoalan hijab.

c. Dalil Lainnya : Isteri yang Melayani Tamu-Tamu Suaminya

Banyak ulama yang mengatakan bahwa seorang isteri boleh melayani tamu-tamu suaminya di hadapan suami, asal dia melakukan tata kesopanan Islam, baik dalam segi berpakaiannya, berhiasnya, berbicaranya dan berjalannya. Sebab secara wajar mereka ingin melihat dia dan dia pun ingin melihat mereka. Oleh karena itu tidak berdosa untuk berbuat seperti itu apabila diyakinkan tidak terjadi fitnah suatu apapun baik dari pihak isteri maupun dari pihak tamu.

Sahal bin Saad al-Anshari berkata sebagai berikut:

“Ketika Abu Asid as-Saidi menjadi pengantin, dia mengundang Nabi dan sahabat-sahabatnya, sedang tidak ada yang membuat makanan dan yang menghidangkannya kepada mereka itu kecuali isterinya sendiri, dia menghancurkan (menumbuk) korma dalam suatu tempat yang dibuat dari batu sejak malam hari. Maka setelah Rasulullah s.a. w. selesai makan, dia sendiri yang berkemas dan memberinya minum dan menyerahkan minuman itu kepada Nabi.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Dari hadis ini, Syaikhul Islam Ibnu Hajar berpendapat: “Seorang perempuan boleh melayani suaminya sendiri bersama orang laki-laki yang diundangnya …”

Tetapi tidak diragukan lagi, bahwa hal ini apabila aman dari segala fitnah serta dijaganya hal-hal yang wajib, seperti hijab. Begitu juga sebaliknya, seorang suami boleh melayani isterinya dan perempuan-perempuan yang diundang oleh isterinya itu.

Dan apabila seorang perempuan itu tidak menjaga kewajiban-kewajibannya, misalnya soal hijab, seperti kebanyakan perempuan dewasa ini, maka tampaknya seorang perempuan kepada laki-laki lain menjadi haram.

d. Dalil bahwa Masjid Nabawi di Zaman Rasulullah SAW Tidak Memakai Tabir

Pandangan tidak wajibnya tabir didukung pada kenyataan bahwa masjid nabawi di masa Rasulullah SAW masih hidup pun tidak memasang kain tabir penitup yang memisahkan antara ruangan laki-laki dan wanita. Bahkan sebelumnya, mereka keluar masuk dari pintu yang sama, namun setelah junmlah mereka semakin hari semakin banyak, akhirnya Rasulullah SAW menetapkan satu pintu khusus untuk para wanita.

Hanya saja Rasulullah SAW memisahkan posisi shalat laki-laki dan wanita, yaitu laki-laki di depan dan wanita di belakang.

Wallahu A`lam Bish-Showab,

Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Sumber: http://www.syariahonline.com

Read Full Post »