Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Dakwah’ Category

Sentuh Hati Mad’umu

Pada dasarnya, setiap manusia, sejahat apapun ia, pasti menyimpan potensi kebaikan dalam, dirinya. Baik itu perampok, pembunuh, dsb. Karena pada dasarnya, manusia dilahirkan dengan fitrah senang dengan kebaikan. Jadi, setiap manusia mempunyai potensi untuk menjadi obyek dakwah kita. Yang perlu kita lakukan adalah bagaimana memperbesar pengaruh kebaikan itu dalam hatinya sehingga sedikit demi sedikit mengurangi kadar keburukannya. Karena itulah perintah Allah SWT adalah amar ma`ruf nahi munkar. Amar ma`ruf yang didahulukan, baru nahi munkar. Bukan nahi munkar baru amar ma`ruf. Maka sangat salah tindakan da`i-da`i yang terlalu terburu-buru mengatakan ini dan itu haram, pengikutnya masuk neraka, dsb.

Yang perlu dilakukan oleh seorang da`i adalah, memberikan pemahaman terlebih dahulu, memperbaiki sisi aqidahnya, menyentuh hatinya dengan nilai-nilai kebaikan dan biarkan sang obyek dakwah merasakan sendiri indahnya nilai-nilai kebaikan itu. Seorang da`I yang baik adalah da`I yang mengubah karakter, bukan sekedar mencegah keburukan yang sifatnya hanya sementara saja. Contohnya, jika ada teman kita yang merokok, saat kita melarangnya, kemungkinan akan terjadi 2 hal, dia akan merokok lagi di lain kesempatan, dan dia akan membenci kita sehingga kita makin jauh dari obyek dakwah kita.

Kebanyakan da`i-da`I yang masih baru begitu bersemangat, lepas kendali dan melihat seorang pendosa pada keburukan-keburukan terlebih dahulu. Seharusnya, kita perlu mengedepankan nilai-nilai kebaikan pada orang itu sehingga kita bisa melihat potensi kebaikan yang ada pada orang tersebut.

Bagaimana cara kita melihat potensi kebaikan obyek dakwah kita? Gunakan hati, dan sentuh hati obyek dakwah kita dengan kemurnian hati kita. Karena hati hanya dapat disentuh dengan hati juga. Dua langkah jitu untuk dapat memurnikan hati demi menyentuh hati obyek dakwah kita:

1. Luruskan niat hanya karena Allah SWT

2. Hilangkan segala prasangka buruk terhadap obyek dakwah kita

Selamat berdakwah… selamat menyentuh hati obyek dakwah….

Read Full Post »

Untukmu Aktivis Dakwah…

by: Hestutomo Restu Kuncoro

An article dedicated to Allah. In honor of the best mentor a very good
friend of mine, Arif Dharmawan.

Pemikiran atau ide tentang hal ini muncul kira-kira 3 tahun yang lalu.
Awal kemunculan pemikiran ini adalah sebuah pesan singkat yang dikirim
oleh seorang adik kelas ke ponsel saya. Isi pesan ini kurang lebih
adalah seperti ini, “Mas, kenapa sih mbak-mbak rohis (baca: aktivis
da’wah) itu bisa bener-bener ramah sama temenku yang anak rohis juga.
Tapi entah kenapa nggak bisa hangat kalau sama orang yang notabene
bukan anak rohis. Kalau misalnya aku lg jalan sama akhwat rohis, pasti
disapa dengan hangat. Tapi kalau misalnya aku jalannya sama temenku
yang bukan anak rohis, kok rasanya dicuekin” Berawal dari kejadian
itu, sebuah pertanyaan muncul dalam pikiran saya waktu itu, Kenapa?

Pencarian jawaban atas pertanyaan satu kata itu membawa saya pada
banyak alternatif analisis. Salah satu jawaban yang masuk diberikan
oleh seorang AD (aktivis da’wah) di kampus tempat saya kuliah saat
ini. Jawabannya: “Mungkin, ada kecenderungan di antara para AD untuk
tidak bisa berbaur dengan orang-orang yang notabene bukan AD sebaik
mereka berbaur dengan sesama mereka. Begitu mendapatkan jawaban ini,
pikiran saya kembali ke sebuah permasalahan klasik di pergerakan
da’wah SMA: kenapa para AD akhwat lebih sering menghabiskan waktu
istirahat sekedar bersama dengan mereka yang notabene juga AD ?

Bukan tindakan bijaksana terburu-buru mengambil kesimpulan. Namun saya
rasa cukup adil ketika saya mengambil kesimpulan bahwa MEMANG ada
tembok imajiner yang “membatasi” kehidupan para AD dan mereka yang
notabene belum aktifr dalam pergerakan da’wah, terlepas dari perbedaan
ketinggian dan ketebalan tembok itu antara satu medan da’wah dan medan
da’wah lain. Namun saya tidak ingin menyatakan bahwa eksistensi tembok
ini adalah sebuah kesalahan atau sesuatu yang perlu dihilangkan.
Karena, eksistensi sebuah tembok imajiner dalam interaksi sosial
maupun individu adalah sebuah keniscayaan yang wajar adanya. Sebagus
apapun kita berbaur dengan manusia lain, selalu ada hal yang membuat
kita tidak bisa menghabiskan seluruh kehidupan kita bersama orang
lain, bahkan bersama pasangan kita sekalipun. Dalam kehidupan pribadi
tembok itu kita kenal sebagai “hal-hal privasi” Dalam kehidupan
sosial, tembok itu punya banyak jenis dan rupa. Itu semua bukan
masalah, selama ketinggian dan ketebalan tembok itu masih ideal dalam
batas kewajaran dan tidak mengganggu kebutuhan untuk berinteraksi.

Tembok itu menjadi masalah ketika kondisi tembok itu, entah karena
atribut ketinggian atau ketebalan, menghalangi terbentuknya kondisi
interaksi sosial maupun individu yang ideal. Banyak hal yang mampu
menjadi alasan ketidak idealan tembok imajiner sosial itu. Dalam kasus
yang sedang kita bicarakan (Aktivis da’wah dan orang-orang yang belum
aktif dalam da’wah), banyak hal yang mungkin menyebabkan terjadinya
tembok itu, di antaranya mungkin perasaan eksklusif yang tidak
disadari hadir dalam proses hijrah, ketiadaan keinginan untuk memahami
pemikiran dan perasaan orang lain, tidak adanya keterbukaan, dan
hal-hal lain.

Bagaimanapun juga, terlepas dari kenapa tembok itu bisa hadir, saya
mencoba mengawang-awang kondisi ideal interaksi sosial dalam
pergerakan da’wah. Ketika kondisi tembok itu tidak sesuai dengan
persyaratan ideal, saya melihat penyebab utamanya bukanlah teknik
interaksi sosial antara AD dan non-AD. Saya meyakini bahwa ketika
ketidak-idealan interaksi sosial terjadi, hal itu disebabkan oleh
seuatu yang sifatnya lebih mengakar, lebih mendalam dan lebih mengontrol.

Apa yang saya maksud dengan sesuatu yang lebih mengakar itu adalah
motif. Jadi, ketidak idealan itu terjadi karena adanya disorientasi
motif yang hadir tanpa disadari. Disorientasi motif itu ada
kemungkinan hadir dalam proses asimilasi AD ke dalam wadah atau badan.
Saya pernah mendapati kasus seorang individu yang begitu yakin bahwa
niatan yang ia bawa adalah niatan yang lurus, namun dalam diskusi kami
kami menyadari bahwa ada sedikit disorientasi motif dalam sepak
terjangnya: melanggengkan hegemoni badan atau wadah.

Keinginan untuk melanggengkan hegemoni sebuah badan atau wadah sarana
da’wah dapat dengan mudah di-misinterpretasik an. Bukan berarti bahwa
keinginan untuk melanggengkan hegemoni sebuah lembaga da’wah sebagai
sesuatu yang salah, sama sekali bukan. Motif itu akan dapat tetap
terkategori sebagai “niatan yang lurus” selama di balik niatan itu
tidak lebih hanyalah keinginan agar bendera da’wah dapat terus
berkibar, jika begitu keadaannya maka tidak masalah. Hanya saja,
seperti yang sudah saya bahas sebelumnya, niatan ini punya
kecenderungan untuk di-salah artikan dengan sangat-sangat mudah. Motif
melanggengkan hegemoni sebuah lembaga da’wah dapat dengan sangat mudah
menggeser paradigma orientasi da’wah para aktivis da’wah yang ada di
dalamnya. Skenario paling buruk dari pergeseran paradigma ini adalah
kecenderungan para aktivis da’wah untuk fokus pada hasil alih-alih
pada proses.

Terkadang, tanpa disadari sepenuhnya oleh para AD, usaha da’wah yang
mereka lakukan terlalu memaksakan untuk mengejar “target” lembaga
da’wah tertentu. Hasilnya, terkadang niatan para AD cenderung
manipulatif dan tidak menyerang akarnya. Apa yang saya maksud dengan
manipulatif adalah proses berpikir “saya pingin ngeliat orang ini jadi
kaya gini”, tanpa keinginan secara penuh untuk memahami pemikiran dan
perasaan orang tersebut. Efeknya dalam tindakan, sikap ramah parsial
(seperti telah dibahas sebelumnya), bersikap ramah (atau perbuatan
lain yang juga menarik simpati) dengan motif agar orang tersebut
simpati kepada para AD dan mau menerima pemikiran yang dibawa oleh AD.
Para AD sering tidak menyadari ini sebagai suatu misplaced-action
karena karakter tindakan seperti ini yang nampak begitu smooth dan
non-manipulatif di luarnya. Well, tindakan seperti ini memang nampak
smooth dan clean di luarnya, tapi sangat disayangkan motif sikap ramah
itu sendiri pada awalnya manipulatif: agar orang yang kita perlakukan
dengan ramah mau menerima pemikiran yang kita bawa.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah lalu bagaimana seharusnya?
Dengan rendah hati dan menyadari semua kealpaan saya sebagai manusia,
saya ingin mencoba mengawang-awang sistematika yang ideal harusnya
seperti apa.

Pertama dari tujuan, saya rasa semua AD sudah sangat paham tentang
hadits pertama dalam kumpulan 40-an hadits yang dikompilasi oleh Imam
Nawawi: tujuan hanyalah Allah. Berawal dari niatan yang begitu mulia
ini, AD harus memahami bahwa parameter keberhasilan AD sebagai hamba
Allah dalam berda’wah bukanlah capaian fisik sistem da’wah. Lebih jauh
harus dipahami bahwa tanggung jawab AD dalam berda’wah adalah mengajak
BUKAN MENGUBAH. Tujuan akhirnya memang adalah perubahan individu yang
berujung pada hijrahnya sebuah peradaban. Namun sangat tidak bijaksana
jika dalam usaha mengejar hasil, AD mengabaikan mengabaikan sebuah
prinsip penting.

Prinsip penting yang saya maksud adalah keinginan untuk memberikan
yang terbaik pada objek da’wah AD (yang sebenarnya bukan objek sama
sekali). Pelanggaran prinsip ini sering berujung pada tindakan
manipulatif di mana AD terlalu fokus pada capaian akhir fisik (dalam
usaha menghadirkan kekuatan dalam lembaga da’wah sehingga lembaga
da’wah itu dapat memepertahankan hegemoninya) , tanpa memperhatikan
secara tulus pribadi objek da’wah yang bersangkutan. Contoh yang
kongkret sudah saya bahas sebelumnya: tindakan simpati manipulatif
dalam usaha mencapai tujuan akhir itu.

Seharusnya menurut saya, prinsip ini dijalankan secara sinergis dengan
tujuan da’wah dan tanggung jawab AD dalam da’wah itu sendiri. Inilah
prinsip yang saya sebut dalam judul sebagai Da’wah Kanthi Tresna,
sebuah kalimat bahasa jawa yang jika diterjemahkan ke dalam Bahasa
Indonesia, maknanya Da’wah Dengan Cinta. Aplikasi prinsip ini adalah
sebuah kesadaran sepenuhnya akan hakikat kita sebagai hamba Allah dan
kewajiban kita untuk mencintai sesama muslim maupun hamba Allah,
karena Allah. Lebih lanjut, ketika kita mampu mencintai orang lain
karena Allah, sudah menjadi hal yang lumrah ketika kita mengharapkan
yang terbaik untuk orang-orang yang kita cintai. Dan hal yang terbaik
untuk semua hamba Allah, tanpa perlu disangsikan, tentu saja kedekatan
dengan Allah. Dalam usaha memeberikan yang terbaik untuk orang-orang
yang kita cintai, kita akan mengajak mereka untuk dekat dengan Allah,
tentu saja dengan berda’wah. Jadi motif da’wah kita seharusnya tidak
lebih daripada sekedar bentuk eksppresi cinta kita (yang hadir karena
Allah) kepada saudara-saudara kita sesama muslim dan sesama hamba
Allah, sebagai sinergi motif utama kita mengharap ridhoNya.

Jika proses berpikir AD dilakukan dengan cara seperti ini, insyaAllah
tidak akan ada lagi pemikiran maupun tindakan manipulatif dalam
mencapai capaian fisik sebuah sistem da’wah. Simpati yang hadir dalam
diri objek da’wah kepada AD hadir sebagai bentuk tanggapan otomatis
stimulus cinta yang hadir dari dalam diri AD kepada orang-orang yang
dida’wahi. Dalam aplikasinya, ketika AD bersikap ramah dan hangat
kepada objek da’wah, tindakan itu didasari secara penuh dan secara
tulus sebagai ekspresi cinta. Kehadiran cinta dalam da’wah juga akan
menghadirkan keinginan untuk secara tulus mendengarkan dan memahami
pemikiran serta perasaan objek da’wah oleh AD.

Lalu apakah salah menetapkan capaian fisik dalam da’wah ? Tidak, sama
sekali tidak, selama capaian fisik itu dibuat tidak lebih daripada
sekedar sistem untuk mengevaluasi metode. Namun satu hal yang perlu
diperhatikan, jangan sampai capaian fisik itu menjadi acuan utama
tindakan da’wah para AD sehingga melupakan urgensi hadirnya motif
cinta dalam pergerakan da’wah mereka.

Wahai saudaraku, mari belajar mencintai saudara-saudara kita secara
tulus. Ketika berda’wah, hadirkan motif karena kita menginginkan yang
terbaik untuk saudara-saudara kita… Kedekatan dengan Allah…

Wallahu’alam bishowab

Read Full Post »