Feeds:
Posts
Comments

Archive for December 11th, 2008

Menjaga Lisan

Sungguh kita wajib berlindung kepada Allah dari bahaya lidah kita,karena tanpa pertolongan-Nya mustahil kita bisa mengendalikan lidah kita dalam berbicara terutama kita kaum wanita.Berbicara memang enak,semakin manis apalagi membahas masalah yang tidak ada habisnya dari awal hingga akhir.Tanpa disadari lidah telah mendorong kita dalam kemaksiatan yang dimurkai-Nya.

Berapa banyak kita temukan seorang yang bertengkar hebat karena dari bahaya lidah,terputusnya sillahturahim,perceraian antara suami & istri, salah faham,bermusuhan,tidak saling menegur, saling membenci, dan masih banyak lagi yang tidak mungkin kita tampilkan disini.

Maksiat lisan (lidah)ini adalah makanan (kebiasaan) manusia, karena demikian mudah dan cepatnya ia terlontarkan dari mulut seseorang. Coba ukhti simak dalam hadits Shahih berikut ini:

“Orang-orang yang dijerumuskan kedalam neraka, hanyalah karena akibat perbuatan lidah mereka”

(HR.Tirmidzi No.2619 dalam kitab Al-Iman, Musnad Imam Ahmad 7/231, dan Tirmidzi berkata hadits ini hasan Shahih)

Dan hadits lain yang berbunyi:

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata benar atau diam”

(HR.Bukhari 10/373 kitab Al-Adab,Muslim hadits No.47, Musnad Imam Ahmad 4/31)

Bila kita perhatikan 2 hadits diatas maka akan kita dapati betapa besarnya bahaya lidah ini yang dapat mengakibatkan seorang hamba tercebur kedalam neraka karena itulah Rasulullah mendidik kita agar dalam segala hal kita berkata yang haq (benar) bila tidak bisa maka kita dianjurkan untuk diam. Agar selamat dunia dan akhirat kita.

Mengapa demikian ukhti? karena lidah adalah ibarat altar sebuah lapangan dalam kebaikan dan keburukan. Orang yang melepaskannya dan tidak menjaganya dengan kendali ajaran syariat, akan digiring oleh setan menuju jalan-jalan kebinasaan dan hasilnya adalah keneraka. Kesempurnaan lidah adalah menahan diri dari ucapan-ucapan sampah, hanya berbicara untuk kebaikan karena lisan tidak dapat dipercaya sepenuhnya dan bahaya yang ditimbulkan amat besar , maka kebanyakan orang dizaman kita sekarang ini telah terkena musibah lisan.

Ya,…musibah lisan..

Yang sudah terlanjur menjadi bumbu dan santapan dalam majelis-majelis mereka, seperti gosip, dusta, ghibah, debat kusir,adu argumnetasi, memperbincangkan kebatilan,bertengkar mengobral ucapan-ucapan sampah, menambal sulam berita (agar lebih nikmat didengar), membangga-banggakan diri untuk berhibur atau menyindir orang lain, menyebarkan ucapan orang banyak (ibarat iklan sabun), mencaci orang yang dibenci dan menganggap suci orang yang disukai, membongkar rahasia dan sejenisnya.Kuatnya dorongan bicara ditambah dengan lidah yang memang tidak bertulang, maka kesabaran kita menjadi lemah,Oleh sebab itu harus selalu kita ingat sabda Nabi kita Shalallahu alihi wassalam:

“Peliharalah lisanmu ini”

(HR.Tirmidzi no.2169 , hasan Shahih )

Ukhti muslimah,…kita sering mendapatkan orang yang demikian wara’nya (hati-hati) dalam menjaga dirinya dari barang haram,seorang wanita muslimah yang telah terhijabi tubuhnya dengan jilbab akan tetapi ia tidak bisa menahan diri dari lisannya, sembarangan berbicara termasuk yang tergolong dalam dosa-dosa besar, seperti ghibah, mengadu domba (namimah), menyebar gosip, ngerumpi dan lain-lain.

Demikian pula juga halnya bila membicarakan penafsiran Al-Qur’an atau menyebutkan hadits Rasulullah, demikian mudahnya lisan berbicara tanpa ilmu, padahal Allah telah memperingati kita dalam firman-Nya:

“Dan, janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan(ilmu) tentangnya.Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya” (Al-Isra’ ayat 36)

Jadi, dari pembahasan diatas kita menyadari betapa wajibnya kita menjaga lisan ini agar selalu berada dalam keridha’an-Nya. Ukhti Muslimah…apalagi yang kita tunggu? secepatnya kita bangkit dan membenahi diri kita untuk menata lidah kita ini sehingga kita menjadi hamba-Nya yang selamat di dunia dan akhirat. Amin…shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita yang demikian sayangnya kepada ummatnya ini agar tidak terjerumus dari hal-hal yang dimurkai-Nya.Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga dan melindungi lisan kita karena semuanya tak lepas dari taufik dan bimbingan-Nya. Wallahu’alam bisshawab.

Bahan Maraji’:

Hiburan Bagi Orang Yang Tertimpa Musibah, Muhammad Al-Hambali, 272-275, Darul Haq, Juni 2001M

Advertisements

Read Full Post »

Pesta Sate di Rumah Jaka

“Bro… malam bujang lagi yuk di rumah Jaka… pesta sate!!!”

Begitulah bunyi SMS yang masuk pada HP saya malam itu, dua hari setelah Idul Adha….

Saat itu, saya sedang ada di rumah kost bersama Yahdi yang berencana menginap.

“Ditunggu di Madtari… kita berangkat dari sini… cepetan!!!” bunyi SMS yang kembali masuk dari Rihan.

“Jemput aja kami disini…. kalo kami kesana lama, pake angkot, terus jalan kaki lagi…” balas saya.

“OK…. kita kesana” balas Rihan Lagi.

Beberapa menit kemudian, datanglah Rihan bersama Husna, menjemput kami berdua. Tidak lama setelah itu, kamipun berangkat ke rumah Jaka, yang selama ini menjadi “markas” kami.

Di rumah Jaka, Kami bagi-bagi tugas. Ada yang menusuk daging dengan tusuk sate, ada yang menyiapkan tungku pembakaran, ada yang cuma bengong melihat… (nah loh…). Total jumlah daging yang tersedia ada sekitar 30an tusuk sate. Semua siap, tinggal dibakar!!!

“Sur… kamu kan dari surabaya… deket tuh ama madura…” celetuk Jaka. Yah…. langsung ketangkep maksudnya supaya saya yang ngipasin sate yang dibakar, ala tukang sate madura gituh…. saya sih ayo aja…

Pembakaran dimulai dengan menuangkan minyak, syur…. segar….. nyalakan apinya… bush….! gedhe banget!

“minyaknya kebanyakan sur!” kata Jaka. Yah… namanya juga pemula…

Api yang terlalu besar membuat hasil pembakaran awal gosong! bahkan ada yang tusuk satenya putus gara-gara apinya terlalu panas. Putus karena terbakar maksudnya…. Alhamdulillah… lama kelamaan hasilnya makin baik… itung-itung modal kerja nanti kalo belum dapet kerjaan… he he…

Begitu selesai… pesta dimulai !!!! kami bagi satenya, kami ambil nasinya… tersedia dua piring untuk 5 orang.

“Rihan sepiring ama Surya aja…. sama-sama jagoan makan” Kata Jaka dan Yahdi. Husna seperti biasa, mengangguk setuju aja…. Satu piring untuk Yahdi, Husna dan Jaka, satu piring untuk saya dan Rihan…

nyam…nyam… hm…. wow… gule kambing tiba! menunya tambah lagi…. wah… alhamdulillah…

-ti….t- (sensor, ntar pada ikut laper lagi)

Fuh…. habis…

“Mau bakar lagi nggak? ronde 2… masih ada lho!”

“Bakar!!!”

Pembakaran daging ronde 2 dimulai. Teknisnya sama, hanya saja jumlahnya lebih sedikit. Begitu sudah jadi, kami memakannya tanpa nasi, karena khawatir kenyang.

Agenda berikutnya… tidur..! kamipun menginap di rumah Jaka, menikmati indahnya malam, demi menyimpan energi untuk aktivitas esok hari…

Read Full Post »