Feeds:
Posts
Comments

Archive for July 18th, 2008

About Me

Ass.Wr.Wb

Hai, sahabat…. mau kenal lebih dekat dengan Surya ? berarti sahabat tidak salah jika membuka blog ini….

Kenalan dulu yuks….

Kata orang tua, Surya itu anak nakal yang susah diatur
Kata Sodara2, Surya mirip Ustadz Yusuf Mansur (Bener gak sich?!)
Kata teman2 seperjuangan dakwah, Surya seperti baterai Energizer, energinya tahan lama
Kata teman2 kuliah, Surya tuh tukang do’a dan tukang tidur
Kata teman2 sekelas SMA, Surya tuh tester racun
Kata istri… eits..!!! belum nikah bro! (do’akan agar diberi kemudahan untuk dapat disegerakan ya…)
Kata tes kepribadian, Surya adalah “Reformer”

Benernya… Surya hanyalah seorang Hamba Allah yang tidak tahu berterima kasih pada-Nya, yang begitu sering melakukan dosa di saat karunia-Nya tak henti Surya terima

Surya juga seorang manusia yang masih banyak kekurangan dan masih perlu banyak belajar tentang kehidupan…

Ya Rabb…
Aku ingin dekat dengan-Mu seperti Rasulullah SAW
Aku ingin dekat dengan Rasulullah seperti Abu Bakar
Aku ingin kuat seperti Umar bin Khattab
Aku ingin kaya dan dermawan seperti Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf
Aku ingin menjadi pemuda soleh seperti Ali bin Abu Thalib dan Mus’ab bin Umair
Aku ingin menjadi pejuang seperti Khalid bin Walid dan Sa’ad bin Abi Waqqash

Ya Rahman… Ya Rahim…
Aku ingin menjadi bagian dari batu bata peradaban kemenangan Islam, menjadi generasi pengganti, bukan yang tergantikan, dan menjadi saksi atas tegaknya Dienul Islam di bumi ini

Untuk itu, kulantunkan…

mengarungi samudera kehidupan…
kita ibarat para pengembara….
hidup ini adalah perjuangan
tiada masa… tuk berpangku tangan

setiap tetes peluh dan darah…
tak akan sirna ditelan masa…
segores luka… di jalan 4JJ1
kan menjadi… saksi pengorbanan

4JJ1 ghayatuna (4JJ1 adalah tujuan kami)
ArRasul Qudwatuna (Rasulullah teladan kami)
Al-Qur’an dusturuna (Al-Qur’an pedoman hidup kami)
Al-Jihadu sabiluna (Jihad adalah jalan juang kami)
Al-Mautu fi sabilillah… asma amanina (Mati di jalan 4JJ1 adalah… cita-cita kami tertinggi)

Wass.Wr.Wb.

Advertisements

Read Full Post »

Tabir Ruangan

Pertanyaan:

ustadz, mohon dalil tentang pensyariatan hijab ruangan (tabir) dan apakah ada perselisihan pendapat di antara para ulama tentang hal ini?

Qafqa

Jawaban:

Assalamu `alaikum Wr. Wb.

Bismillahirrahmanirrahiem. Alhamdulillahi Rabbil `Alamin. Wash-shalatu Was-Salamu `alaa Sayyidil Mursalin. Wa ba`d,

Memang para ulama berbeda pandangan tentang kewajiban memasang tabir antara tempat lak-laki dengan tempat wanita. Yang disepakati adalah bahwa para wanita wajib menutup aurat dan berpakaian sesuai dengan ketentuan syariat. Juga sepakat bahwa tidak boleh terjadi ikhtilat (campur baur) antara laki dan wanita. Serta haramnya khalwah atasu berduaan menyepi antara laki-laki dan wanita.

Sedangkan kewajiban untuk memasang kain tabir penutup antara ruangan laki-laki dan wanita, sebagian ulama mewajibkan dan sebagian lainnya tidak mewajibkan.

1. Pendapat Pertama : Yang Mewajibkan Tabir

Mereka yang mewajibkan harus dipasangnya kain tabir penutup ruangan berangkat dari dalil baik Al-Quran maupun As-Sunah

a. Dalil Al-Quran :

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak, tetapi jika kamu diundang maka masuklah dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi lalu Nabi malu kepadamu , dan Allah tidak malu yang benar. Apabila kamu meminta sesuatu kepada mereka, maka MINTALAH DARI BELAKANG TABIR. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti Rasulullah dan tidak mengawini isteri-isterinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar di sisi Allah.(QS. Al-Ahzab : 53)

Ayat tersebut menyatakan bahwa memasang kain tabir penutup meski perintahnya hanya untuk para isteri nabi, tapi berlaku juga hukumnya untuk semua wanita. Karena pada dasarnya para wanita harus menjadikan para istri nabi itu menjadi teladan dalam amaliyah sehari-hari. Sehingga kihtab ini tidak hanya berlaku bagi istri-istri nabi saja tetapi juga semua wanita mukminat.

b. Dalil As-Sunnah

Diriwayatkan oleh Nabhan bekas hamba Ummu Salamah, bahwa Rasulullah s.a.w. pernah berkata kepada Ummu Salamah dan Maimunah yang waktu itu Ibnu Ummi Maktum masuk ke rumahnya. Nabi bersabda: “pakailah tabir”. Kemudian kedua isteri Nabi itu berkata: “Dia (Ibnu Ummi Maktum) itu buta!” Maka jawab Nabi: “Apakah kalau dia buta, kamu juga buta? Bukankah kamu berdua melihatnya?”

2. Pendapat Kedua : Yang Tidak Mewajibkan

Oleh mereka yang mengatakan bahwa tabir penutup ruangan yang memisahkan ruangan laki-laki yang wanita itu tidak merupakan kewajiban, kedua dalil di atas dijawab dengan argumen berikut :

a. Dalil AL-Quran

Sebagian ulama mengatakan bahwa kewajiban memasang kain tabir itu berlaku hanya untuk pada istri Nabi, sebagaimana zahir firman Allah dalam surat Al-Ahzab : 53.

Hal itu diperintahkan hanya kepada istri nabi saja karena kemuliaan dan ketinggian derajat mereka serta rasa hormat terhadap para ibu mukimin itu. Sedangkan terhadap wanita mukminah umumnya, tidak menjadi kewajiban harus memasang kain tabir penutup ruangan yang memisahkan ruang untuk laki-laki dan wanita.

Dan bila mengacu pada asbabun nuzul ayat tersebut, memang kelihatannya memang diperuntukkan kepada para istri nabi saja.

b.Dalil Sunnah

Kalangan ahli tahqiq (orang-orang yang ahli dalam penyelidikannya terhadap suatu hadis/pendapat) mengatakan bahwa hadits Ibnu Ummi Maktum itu merupakan hadis yang tidak sah menurut ahli-ahli hadis, karena Nabhan yang meriwayatkan Hadis ini salah seorang yang omongannya tidak dapat diterima.

Kalau ditakdirkan hadis ini sahih, adalah sikap kerasnya Nabi kepada isteri-isterinya karena kemuliaan mereka, sebagaimana beliau bersikap keras dalam persoalan hijab.

c. Dalil Lainnya : Isteri yang Melayani Tamu-Tamu Suaminya

Banyak ulama yang mengatakan bahwa seorang isteri boleh melayani tamu-tamu suaminya di hadapan suami, asal dia melakukan tata kesopanan Islam, baik dalam segi berpakaiannya, berhiasnya, berbicaranya dan berjalannya. Sebab secara wajar mereka ingin melihat dia dan dia pun ingin melihat mereka. Oleh karena itu tidak berdosa untuk berbuat seperti itu apabila diyakinkan tidak terjadi fitnah suatu apapun baik dari pihak isteri maupun dari pihak tamu.

Sahal bin Saad al-Anshari berkata sebagai berikut:

“Ketika Abu Asid as-Saidi menjadi pengantin, dia mengundang Nabi dan sahabat-sahabatnya, sedang tidak ada yang membuat makanan dan yang menghidangkannya kepada mereka itu kecuali isterinya sendiri, dia menghancurkan (menumbuk) korma dalam suatu tempat yang dibuat dari batu sejak malam hari. Maka setelah Rasulullah s.a. w. selesai makan, dia sendiri yang berkemas dan memberinya minum dan menyerahkan minuman itu kepada Nabi.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Dari hadis ini, Syaikhul Islam Ibnu Hajar berpendapat: “Seorang perempuan boleh melayani suaminya sendiri bersama orang laki-laki yang diundangnya …”

Tetapi tidak diragukan lagi, bahwa hal ini apabila aman dari segala fitnah serta dijaganya hal-hal yang wajib, seperti hijab. Begitu juga sebaliknya, seorang suami boleh melayani isterinya dan perempuan-perempuan yang diundang oleh isterinya itu.

Dan apabila seorang perempuan itu tidak menjaga kewajiban-kewajibannya, misalnya soal hijab, seperti kebanyakan perempuan dewasa ini, maka tampaknya seorang perempuan kepada laki-laki lain menjadi haram.

d. Dalil bahwa Masjid Nabawi di Zaman Rasulullah SAW Tidak Memakai Tabir

Pandangan tidak wajibnya tabir didukung pada kenyataan bahwa masjid nabawi di masa Rasulullah SAW masih hidup pun tidak memasang kain tabir penitup yang memisahkan antara ruangan laki-laki dan wanita. Bahkan sebelumnya, mereka keluar masuk dari pintu yang sama, namun setelah junmlah mereka semakin hari semakin banyak, akhirnya Rasulullah SAW menetapkan satu pintu khusus untuk para wanita.

Hanya saja Rasulullah SAW memisahkan posisi shalat laki-laki dan wanita, yaitu laki-laki di depan dan wanita di belakang.

Wallahu A`lam Bish-Showab,

Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Sumber: http://www.syariahonline.com

Read Full Post »


Allah SWT berfirman, Di antara orang-orang mukmin ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka
di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada [pula]
yang menunggu-nunggu, dan mereka sedikitpun tidak merobah
[janjinya]. Maha Benar Allah dalam segala firman-Nya.

Imam Ahmad bin Hanbal berkata, Bila engkau ingin mengetahui kesalihan seseorang, maka lihatlah iring-iringan pengantar jenazahnya.

Pagi hari tadi [Jum'at, 10 Ramadhan], saya berkesempatan mengikuti upacara penyolatan Mursyid Am, Ustad Musthafa Masyhur, bersama sekitar 40 ribu jamaah. Kebetulan saya baru tahu subuhnya. Sungguh
sebuah pemandangan yang baru sekali saya lihat selama bertahun-tahun di Kairo.

Shalat jenazah dilaksanakan sehabis shalat Jum'at di mesjid Rabiah el- Adawiyah yang berada di kawasan terramai di kota Nasr City. 6 kilometer dari kediaman saya. Sesuai dugaan, mesjid Rabiah, yang biasa digunakan untuk prosesi jenazah orang-orang besar itu,
sudah penuh sejak pagi. Saya yang berangkat pukul 9.30 hanya kebagian shalat di taman. Bisa dibayangkan, akan shalat di mana orang-orang yang datang pas azan.

Saat saya datang, walaupun lingkungan mesjid berjubel manusia, tapi suasana sangat sejuk, khusyu, tak ada suara gaduh dan teriak-teriak. Semua orang tenggelam dalam renungan dan doa. Orang yang perlu bicara dengan temannya hanya pakai bahasa isyarat, dan suara pelan.

Selagi sebagian orang sibuk mencari tempat dengan alas seadanya, yang
lain terpekur menekuni Alquran, mendoakan sang pemimpin. Berjam-jam
mereka menunggu hingga akhirnya kumandang azan terdengar. Khatib tetap mesjid Rabiah pun naik dan membacakan khutbah yang sangat
pendek. Shalat jenazah ini hanya numpang, sehingga semua operasional
shalat jumat tetap seperti biasa, tidak berubah.

Oleh karena itu wajar kalau khutbah pendek, dan tidak begitu menyinggung hajatan yang sedang berlangsung. Sepertinya sesuai pesan pihak keamanan yang terlihat sangat sibuk mengantisipasi acara. Sehingga nama Ustaz Musthafa Masyhur tak sekali pun terdengar. Yang
dipakai hanya kata ganti, seperti al-Faqidul Aziz [orang yang sangat kita rasakan kehilangan].

Demikian pula, saat akan shalat jenazah. Tidak ada sambutan apa-apa. Hanya ada pesan untuk mengikhlaskan niat, ikhlaskan doa, dsb. Shalat entah siapa yang mengimaminya, saya kurang hafal dengan suaranya.

Seusai shalat, jenazah siap dibawa keluar. Jamaah diarahkan ke ruas jalan menuju pekuburan. Saat itu pun suasana 40 ribu orang itu tetap tenang dan sejuk. Seakan sudah ada kesepakatan untuk tidak ada yel- yel apa pun. Orang muda di samping saya sempat berniat untuk bertakbir, tapi buru-buru seorang tua melarang dan sedikit memarahinya.

Jenazah keluar dengan sangat pelan. Pelataran mesjid, yang berada tepat di perempatan itu sudah jadi lautan manusia. Saat jenazah mulai terlihat, di situlah saya tidak kuasa menahan tangis. Saya teringat pengorbanan beliau mempertahankan dakwah, jasa-jasanya kepada kita
semua. Orang-orang pun menangis sambil keluar doa-doanya menyertai keberangkatan sang mujahid. Dalam suasana seperti itu, orang Mesir biasanya sudah histeris. Tapi kali ini terlihat sangat berbeda.

Jenazah berjalan dengan sangat lambat, hingga akhirnya mencapai mobil untuk memulai parade panjang ke pekuburan yang berjarak sekitar 10 kilo. Jamaah yang begitu banyak itu pun mulai merangsek maju melalui
jalan Thayran, melewati Kulliyatul Banat, Hay Sabi', Hay Zuhur, Wafa' wal Amal, Hay Asyir, dan keluar kawasan perumahan menuju pekuburan Wafa wal Amal.

Lalu lintas macet total. Mesir tidak biasa mengalami demo turun jalan sehingga arak-arakan Pengantin ini menjadi hal baru, polisi lalulintas pun belum cakap mengatur peristiwa seperti ini.

Walaupun tidak ada suara gaduh, tapi yang menarik lagi adalah banyak terdapat spanduk-spanduk ukuran besar memuat lambang Ikhwanul Muslimin. Dan rupanya pemasangan spanduk ini tidak dilarang pihak keamanan. Pada arak-arakan panjang itu, yang dominan adalah
spanduk IM dan mushaf-mushaf yang diacungkan ke arah jenazah. Orang-orang seakan merinding, gerakan terlarang ini kok sangat besar.

Kuburan yang disiapkan berada di ujung akhir pekuburan. Iringan sampai di sana berbarengan dengan kumandang shalat ashar. Upacara pemakaman berisi anjuran untuk tidak membuat yel-yel, taushiyah untuk
selalu tsabat dalam perjuangan, dan doa. Bagian inilah yang paling mengharukan. Kawasan kuburan yang berbentuk bukit-bukit kecil itu penuh dengan manusia, melihati kamar pengantin yang ada di bawah mereka. Mengucapkan selamat dan doa agar bahagia di kehidupan
baru beliau.

Malam harinya, insya Allah akan dilangsungkan upacara al-'Aza di mesjid Rabiah al-Adawiyah. Acara semacam biasanya berisi pendengaran Alquran, dan sambutan-sambutan mengenang sirah perjuangan orang
yang meninggal.

Demikian kisah pendek ini, semoga bermanfaat. Ya Allah, tempatkanlah beliau di Firdausil A'la bersama para Anbiya, Syuhada, dan Shalihin. Dan pertemukanlah kami kembali di sana. Amin.

Taken from Sofwan abbas in Profetik & IMSA's Milist.

SUMBER : MANARUL 'ILMI( WWW.MASJIDITS.CJB.NET )

Read Full Post »

Gagal? Siapa takut !

Apakah anda takut gagal? Sedemikian takutnya sampai anda

tidak berusaha untuk mencoba? Coba anda pikirkan kembali,

hal tersebut benar-benar tidak masuk akal. Dengan tidak

mencoba barang sekalipun, sebenarnya anda sudah gagal. Jadi

rasa takut gagal adalah penyebab kegagalan yang pasti.

Apakah anda merasa takut? Coba perhatikan rasa takut anda.

Perhatikan pesan yang berusaha disampaikannya. Rasa takut

membuat anda lebih waspada. Rasa takut memberi energi ekstra.

Rasa takut membuat anda mampu mengatasi tantangan tersulit.

Tidak ada yang mampu mendorong sumber daya dalam diri anda –

lebih dari rasa takut.

Rasa takut sebenarnya ada untuk mendorong anda maju, bukan

untuk menahan anda. Biarkan rasa takut mengajarkan anda.

Biarkan rasa takut mempersiapkan anda. Tetapi jangan membuat

rasa takut menghentikan anda. Saat rasa takut menahan anda,

coba perhatikan baik-baik apa yang menyebabkan rasa takut –

dan anda akan menemukan alasan untuk bergerak maju.

Kegagalan paling abadi adalah kegagalan untuk mulai bertindak.

Bila anda sudah mencoba – dan ternyata gagal, anda memperoleh

sesuatu yang bisa dipelajari dan mungkin dicoba kembali. Anda

tidak akan pernah gagal bila anda terus berusaha.

Read Full Post »

Meja Kayu

Suatu ketika, seorang kakek harus tinggal dengan keluarga anaknya. Selain dia, tinggal pula menantu, serta anak mereka yang berusia 6 tahun. Tangan orangtua ini begitu rapuh, dan sering bergerak tak menentu. Penglihatannya buram, dan cara berjalannya pun ringkih.

Keluarga itu biasa makan bersama di ruang makan. Namun, sang orangtua yang pikun ini sering mengacaukan segalanya. Tangannya yang bergetar dan mata yang rabun, membuatnya susah untuk menyantap makanan. Sendok dan garpu kerap jatuh ke bawah. Saat si kakek meraih gelas, segera saja susu itu tumpah membasahi taplak. Dan itu seringkali terjadi. Anak dan menantunya pun menjadi gusar. Mereka merasa direpotkan dengan semua ini. “Kita harus lakukan sesuatu, ” ujar sang suami. “Aku sudah lelah

membereskan semuanya untuk pak tua ini.”

Lalu, kedua suami-istri ini pun sepakat untuk membuatkan sebuah meja kecil di sudut ruangan. Disana, sang kakek akan duduk untuk makan sendirian, saat semuanya menyantap makanan. Karena sering memecahkan piring, keduanya juga memberikan mangkuk kayu untuk si kakek. Sering, saat keluarga itu sibuk dengan makan malam mereka, terdengar isak sedih dari sudut ruangan. Ada airmata yang tampak mengalir dari gurat keriput si kakek. Namun, kata yang keluar dari suami-istri ini selalu omelan agar ia tak menjatuhkan makanan lagi. Anak mereka yang berusia 6 tahun memandangi semua yang tengah terjadi dalam diam.

Suatu malam, sebelum tidur, sang ayah memperhatikan anaknya yang sedang memainkan mainan kayu. Dengan lembut ditanyalah anak itu. “Kamu sedang membuat apa?”. Anaknya menjawab, “Aku sedang membuat meja kayu buat ayah dan ibu untuk makan saatku besar nanti. Nanti, akan kuletakkan di sudut itu,dekat tempat kakek biasa makan.” Anak itu tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya. Jawaban itu membuat kedua orangtuanya begitu sedih dan terpukul. Mereka tak mampu berkata-kata lagi. Lalu, airmatapun mulai bergulir dari kedua pipi mereka. Walau tak ada kata-kata yang terucap, kedua orangtua ini mengerti, ada sesuatu yang harus diperbaiki dalam perilaku mereka. Malam itu, mereka menuntun tangan si kakek untuk kembali makan bersama di meja makan. Tak ada lagi omelan yang keluar saat ada piring yang jatuh, makanan yang tumpah atau taplak yang ternoda. Kini, mereka bisa makan

bersama lagi di meja utama.

1. “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.”

2. “Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.”

3. “Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. (QS Al Isra 23-24)

Read Full Post »