Oleh: Iwan Riswandi, member AEE , US .
Fasilitasi sehubungan dengan judul di atas ditujukan untuk menjembatani peristiwa atau pengalaman yang dialami oleh perserta latih (baca: selanjutnya ditulis peserta saja) dengan kehidupan sehari-hari atau dalam pekerjaannya. Menjembatani termasuk di dalamnya menerjemahkan, memaknai, menganalogikan, dan transfer pengalaman dengan isu-isu yang terjadi dalam proses bisnis masing-masing peserta.
Perihal “menjembatani”, Michael Gass, mengidentifikasikan teori transfer ke dalam tiga bagian yang signifikan; transfer spesifik, tranfer non-spesifik dan transfer metaphorik. Sebagai gambaran, beberapa kelompok peserta mendapatkan tantangan untuk menyeberangi sebuah danau dengan perlengkapan yang terbatas, misalnya beberapa dayung, jaket pelampung, ban dalam, bambu dan beberapa meter tali. Kemudian pada saat proses fasilitasi berlangsung, beberapa peserta mengungkapkan bahwa dirinya belajar bagaimana cara mengikat tali yang benar, mendayung yang benar, dan membaca medan dengan tepat, maka sampai pada tahap ini seorang fasilitator secara langsung atau tidak langsung telah menjembatani bahwa dari kegiatan tersebut peserta belajar hal-hal yang spesifik tadi.
Kemudian beberapa peserta lain mengungkapkan bahwa mereka merasakan betapa pentingnya membuat perencanaan, mengkomunikasikan rencana hingga seluruh anggota memahami apa yang akan dicapai, mengatur irama kerja, bekerjasama dan berkomunikasi dengan efektif. Pada tahap ini seorang fasilitator secara langsung atau tidak langsung telah menjembatani bahwa dari kegiatan tersebut peserta belajar hal-hal yang non-spesifik. Bukan belajar cara membuat simpul tali atau mendayung, tapi belajar hal-hal yang tidak spesifik dengan tugas kerjanya.
Sampai pada akhir kegiatan, beberapa peserta menyimpulkan bahwa dari kegiatan tersebut mereka belajar tentang menjadi pemimpin yang akomodatif, pemimpin yang mampu membawa seluruh anggota kelompok meraih tujuan bersama, dan pemimpin yang mampu membawa kegembiraan dalam bekerjasama. Pada tahap ini peserta belajar hal yang lebih kompleks, lebih dari sekedar menyebrangi sebuah danau dengan perlengkapan terbatas. Tapi juga belajar tentang pentingnya meninternalisasi visi dan misi bersama, kesungguhan dan daya juang yang tak kunjung padam untuk mencapai kesuksesan bersama.
Dalam proses mem-fasilitasi pengalaman belajar, ada beberapa teknik yang lazim digunakan dalam dunia experiential learning. Pendekatan ini tumbuh berkembang sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan hasil-hasil penelitian di lapangan.
Tahun 1941 ketika Outward Bound yang dibidani oleh Kurt Han lahir, merupakan salah satu momentum belajar dari pengalaman mulai didengar, salah satu instrukturnya sempat menyatakan sebuah kalimat yang menjadi populer yaitu “let the mountain speak for themselves”. Kalimat tersebut oleh sebagian besar praktisi dan akademisi experiential learning dipercaya sebagai teknik fasilitasi generasi paling awal. Jadi pengalaman yang dialami oleh peserta tidak diproses sehingga menjadi “nilai belajar” yang sama-sama disadari, baik oleh peserta atau fasilitatornya. Dengan kata lain peserta melakukan “learning by doing”. Sampai saat inipun penerapan teknik ini masih banyak digunakan, karena dipercaya bahwa sejatinya orang belajar adalah memaknai pengalaman yang menimpa dirinya sendiri oleh dirinya sendiri.
Pada perkembangan berikutnya, teknik fasilitasi ini berkembang sesuai kebutuhan dan bergeser dari let the experience speak for itself menjadi speak on behalf the experience. Pada teknik ini pengalaman dievaluasi dan direlasikan ke dalam kehidupan sehari-hari oleh si fasilitator. Fasilitator lebih banyak memimpin dan melakukan intervensi terhadap proses belajar peserta, maka dalam teknik ini sering di sebut sebagai learning by telling, karena kecenderungan yang terjadi adalah ceramah atau kuliah umum. Misalnya ketika sekelompok peserta yang telah selesai melakukan pelayaran, kemudian diajak duduk bersama, kemudian fasilitator menjelaskan bahwa mereka telah belajar A, B dan C misalnya. Kemudian beberapa perilaku, keputusan, atau tindakan yang menurut fasiltator tidak sesuai dengan semestinya (tentunya dalam kacamata fasiltator), dievaluasi dan diberitahukan sebenarnya harus seperti apa. Terakhir si fasilitator menjelaskan bahwa dari kegiatan pelayaran seharusnya peserta belajar hal-hal berikut; A, B, C, D dan seterusnya. Teknik fasilitasi ini tentunya sampai sekarang juga masih sering digunakan dengan berbagai alasan, misalnya karena sesuai dengan analisa kebutuh pelatihan, sesuai latar belakang pendidikan peserta, atau karena si fasilitator hanya tahu teknik tersebut. Kecenderungan yang terjadi di tanah air juga berdasarkan pengamatan saya di lapangan, masih berada pada tahap ini.
Teknik fasilitasi berikutnya adalah debriefing the experience, peserta belajar melalui refleksi dari pengalaman. Pada tahap ini di sepanjang proses mengalami dan di akhir kegiatan peserta diajak untuk berbagi, mengungkapkan, dan mendengarkan pengalaman orang lain, serta mengungkapkan makna pengalaman hingga cara melakukan sesuatu dengan lebih baik. Teknik ini menjadi teknik paling terkenal dan paling sering digunakan khususnya oleh praktisi experiential learning. Proses ini menjadi penting karena tidak semua peserta mampu memaknai dengan sendirinya pengalaman yang dialaminya. Apalagi jika sampai dengan dihubungkan atau dicari relevansinya terhadap kebutuhannya di dalam pekerjaan. Dengan proses ini diharapkan objektif pelatihan dapat dicapai oleh setiap peserta dengan maksimal.
Sejak debriefing atau refleksi menjadi umum dilakukan setelah peserta selesai melakukan kegiatan, sebagian fasilitator berdasarkan pengalamannya menemukan bahwa mengarahkan peserta ke dalam tema refleksi tertentu ternyata menguntungkan juga. Penemuan ini akhirnya mengarah pada teknik fasilitasi generasi ke-empat yaitu direct frontloading the experience. Frontloading adalah memberikan muatan tertentu di awal kegiatan. Dalam sebagian besar proses belajar experiential learning, fasilitator memberikan pengarahan (brief) dengan menjelaskan bagaimana sebuah tugas atau kegiatan dikerjakan, termasuk aturan dan risikonya, kemudian fasilitator melakukan debriefing berdasarkan pengarahan tadi. Biasanya frontloading menekankan hal-hal yang bersinggungan dengan perilaku apa yang sebaiknya dimunculkan, tujuan apa yang semestinya dicapai, mengapa pengalaman itu penting dan relasinya ke dalam kehidupan, perilaku mana yang mendukung kesuksesan dan perilaku yang mana yang sebaiknya dihindari sehingga tidak menghambat kesuksesan kelompok.
Tidak cukup dengan melakukan direct frontloading the experiene, fasilitasi merambah lebih jauh ke dunia bisnis dengan cara memberikan dan membangun nuansa-nya ke dalam pengalaman belajar. Bahasa bisnis dijadikan judul-judul kegiatan atau proyek pengalaman. Dalam bahasa mengajar dikenal dengan nama apersepsi, yaitu membangun ”mind” peserta dengan cara penggunaan istilah-istilah yang relevan dengan kehidupan sehari-harinya. Misalnya peserta yang terdiri dari orang-orang marketing, maka judul kegiatan berkisar dengan bahasa-bahasa dan istilah yang kental dengan marketing. Tugas kelompok menuju sebuah pulau misalnya diganti dengan judul proyek Penetrasi Pasar Baru, atau Bisnis Hari Ini. Pasar Potensial adalah nama pulau yang akan dituju oleh peserta, dayung, pelampung, tali, bambu dan lainnya disebut sebagai asset perusahaan. Dan ketika peserta mampu menyelesaikan tugas dengan cepat, maka efisiensi dan produktivitas menjadi tema yang tak terelakan. Bahkan bisa jadi konsekuensi- nya dibangun sama dengan konteks bisnis sebenarnya, misalnya kelompok peserta yang mampu mencapai pulau dengan waktu dibawah yang ditetapkan, maka akan mendapatkan bonus buah-buahan segar dan lain sebagainya. Contoh lain misalnya fasilitator menggunakan kata ”pernikahan” untuk menggambarkan kegiatan ber-canoe double seater, secara tersirat fasilitator membangun nuansa bahwa keterampilan mengendalikan canoe paralel dengan dinamika hidup berkeluarga. Proses membangun ”mind” peserta sejak awal kegiatan ini, dalam teknik fasilitasi disebut sebagai isomophically framing the experience. Teknik ini mampu menyusupkan ”roh” yang menakjubkan, dan sangat efektif membawa peserta untuk lebih memaknai pengalaman belajar, dibanding dengan sekedar mengajak peserta dengan berteriak “ayo semangat”!, ”maju terus tim, jangan menyerah”!. Teknik ini juga membantu peserta merelasikan pengalaman dengan kehidupan sehari-harinya, sehingga pertanyaan ”apa sih hubungannya antara saya naik gunung atau naik tali di ketinggian dengan pekerjaan saya?”, mungkin tidak akan ditemukan. Keterampilan ini biasanya diperoleh fasilitator yang memang paham lingkungan bisnis klien-nya atau memang keseharian fasilitator tersebut bukan hanya sebagai ”jago” teori tapi juga adalah pelaku bisnis. Analisa kebutuhan training yang merupakan hasil penelitian fasilitator atau tim khusus sangat membantu praktek fasilitasi di lapangan.
Indirect Frontloading The Experience merupakan teknik fasilitasi yang cukup baru, walaupun mungkin secara sadar atau tidak sadar beberapa fasilitator pernah menerapkannya. Simon Priest dalam Using metaphors and isomorphs to enchance the transfer of learning in adventure education, Journal of Adventure Education (1993), menyebutkan bahwa teknik fasilitasi ini banyak menggunakan bahasa-bahasa hypnosis, karena memang berada pada kuadran development dan therapy. Bahkan kalau saya ingat-ingat masa kecil, rasanya sering ibu saya melakukan pendekatan ini saat membimbing saya. Sebagai contoh; Ibu rupanya mampu menduga beberapa perilaku yang akan muncul, khususnya penolakan saya atau malas-malasan saya, ketika diminta belajar mengaji di Surau dekat rumah. Maka aksi fasilitasinya pada saat-saat tertentu di lain kesempatan, beliau akan bercerita tentang seekor anak burung yang malas belajar terbang atau seekor anak burung yang sering menolak ketika diminta belajar terbang, yang pada akhirnya tidak bisa terbang. Sementara adik-adik sang burung tersebut terbang kesana kemari dengan riangnya, menjelajahi biru-nya langit. Contoh ini memang tidak benar-benar tepat, karena Ibu saya tidak bercerita di saat sebelum meminta saya belajar mengaji, tapi di waktu dan kesempatan yang berbeda. Namun proses Ibu saya yang mampu mendeteksi perilaku-perilaku yang tidak sesuai dengan keinginannya dan mampu memberikan frontloading secara tidak langsung, tetap merupakan contoh yang kontekstual.
Contoh lain, fasilitator mampu menduga bahwa di dalam simulasi spider web kecenderungan peserta laki-laki akan sering bercanda sehingga mengabaikan keselamatan peserta lainnya. Maka si fasilitator akan menyertakan cerita berikut ini di sela-sela brief-nya: ”Sebagian besar kelompok yang melakukan spider web cenderung melakukan dengan cara yang sama. Biasanya di awal peserta akan mencoba-coba tanpa menentukan ”siapa” dan menggunakan ”lubang yang mana”, sehingga waktu yang dibutuhkan akan menjadi sangat lama dan tidak efektif. Namun kemudian beberapa anggota kelompok lainnya mendapati bahwa strategi terbaik adalah membuat perencanaan terlebih dahulu, baru kemudia mengeksekusinya. Sehingga kelompok menemukan cara yang lain dalam mengatasi tantangan spider web.
Jadi jika peserta melakukan hal yang umum dilakukan sebagian besar kelompok lain, maka peserta akan menilai bahwa dirinnya jelas-jelas tidak ada bedanya dengan kelompok lain alias sama saja tidak ada inovasi atau kreativitas lain, dan hal ini sangat positif bagi peserta. Dan jika peserta melakukan hal yang berbeda, tidak sama dengan yang umum, maka hal ini juga tetap positif, karena mereka terdorong untuk berkarya lebih baik dari sebelumnya seperti yang dilakukan orang lain. Teknik ini juga dikenal dengan sebutan ”double bind, keuntungan yang bisa diraih dari sisi manapun.
Teknik fasilitasi paling high end adalah Flagging The Experience, yang dirumuskan oleh Itin, dalam Advance Facilitation of the Experiential Process. Dalam generasi ini fasiltiator menggunakan elemen-elemen bahasa hypnosis untuk membantu peserta menuju alam bawah sadar untuk menemukan solusi atas isu-isu tertentu atau tujuan tertentu. Peserta tetap diajak melakukan beberapa kegiatan yang memiliki relevansi erat dengan tujuan peserta; kemudian dengan bahasa hypnosis peserta dibantu menggunakan pengalaman tersebut sebagai akses membangun kembali bawah sadarnya sesuai dengan tujuan yang diinginkan peserta. Sebagai contoh “membawa” peserta ke dalam kondisi “trance” mampu menghilangkan ketakutan peserta terhadap ketinggian, kemudian pada kondisi sadar, secara perlahan peserta dikenalkan dan diajak melakukan olah raga panjat tebin atau turun dari ketinggian.
Referensi:
Simon Priest dan Michael Gass, Effective Leadership in Adventure Programming.
Michael Gass, Adventure Therapy: Therapuetic applications of adventure learning. Journal of Adventure Education adn Outdoor Leadership.
Christian M Itin, Advance Facilitation Techniques of the Experiential Process
Tom Smih dan Clifford C Knapp, Solo, Silence and Solitude.
Pengalaman pribadi penulis.