Allah SWT berfirman, Di antara orang-orang mukmin ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka
di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada [pula]
yang menunggu-nunggu, dan mereka sedikitpun tidak merobah
[janjinya]. Maha Benar Allah dalam segala firman-Nya.
Imam Ahmad bin Hanbal berkata, Bila engkau ingin mengetahui kesalihan seseorang, maka lihatlah iring-iringan pengantar jenazahnya.
Pagi hari tadi [Jum'at, 10 Ramadhan], saya berkesempatan mengikuti upacara penyolatan Mursyid Am, Ustad Musthafa Masyhur, bersama sekitar 40 ribu jamaah. Kebetulan saya baru tahu subuhnya. Sungguh
sebuah pemandangan yang baru sekali saya lihat selama bertahun-tahun di Kairo.
Shalat jenazah dilaksanakan sehabis shalat Jum'at di mesjid Rabiah el- Adawiyah yang berada di kawasan terramai di kota Nasr City. 6 kilometer dari kediaman saya. Sesuai dugaan, mesjid Rabiah, yang biasa digunakan untuk prosesi jenazah orang-orang besar itu,
sudah penuh sejak pagi. Saya yang berangkat pukul 9.30 hanya kebagian shalat di taman. Bisa dibayangkan, akan shalat di mana orang-orang yang datang pas azan.
Saat saya datang, walaupun lingkungan mesjid berjubel manusia, tapi suasana sangat sejuk, khusyu, tak ada suara gaduh dan teriak-teriak. Semua orang tenggelam dalam renungan dan doa. Orang yang perlu bicara dengan temannya hanya pakai bahasa isyarat, dan suara pelan.
Selagi sebagian orang sibuk mencari tempat dengan alas seadanya, yang
lain terpekur menekuni Alquran, mendoakan sang pemimpin. Berjam-jam
mereka menunggu hingga akhirnya kumandang azan terdengar. Khatib tetap mesjid Rabiah pun naik dan membacakan khutbah yang sangat
pendek. Shalat jenazah ini hanya numpang, sehingga semua operasional
shalat jumat tetap seperti biasa, tidak berubah.
Oleh karena itu wajar kalau khutbah pendek, dan tidak begitu menyinggung hajatan yang sedang berlangsung. Sepertinya sesuai pesan pihak keamanan yang terlihat sangat sibuk mengantisipasi acara. Sehingga nama Ustaz Musthafa Masyhur tak sekali pun terdengar. Yang
dipakai hanya kata ganti, seperti al-Faqidul Aziz [orang yang sangat kita rasakan kehilangan].
Demikian pula, saat akan shalat jenazah. Tidak ada sambutan apa-apa. Hanya ada pesan untuk mengikhlaskan niat, ikhlaskan doa, dsb. Shalat entah siapa yang mengimaminya, saya kurang hafal dengan suaranya.
Seusai shalat, jenazah siap dibawa keluar. Jamaah diarahkan ke ruas jalan menuju pekuburan. Saat itu pun suasana 40 ribu orang itu tetap tenang dan sejuk. Seakan sudah ada kesepakatan untuk tidak ada yel- yel apa pun. Orang muda di samping saya sempat berniat untuk bertakbir, tapi buru-buru seorang tua melarang dan sedikit memarahinya.
Jenazah keluar dengan sangat pelan. Pelataran mesjid, yang berada tepat di perempatan itu sudah jadi lautan manusia. Saat jenazah mulai terlihat, di situlah saya tidak kuasa menahan tangis. Saya teringat pengorbanan beliau mempertahankan dakwah, jasa-jasanya kepada kita
semua. Orang-orang pun menangis sambil keluar doa-doanya menyertai keberangkatan sang mujahid. Dalam suasana seperti itu, orang Mesir biasanya sudah histeris. Tapi kali ini terlihat sangat berbeda.
Jenazah berjalan dengan sangat lambat, hingga akhirnya mencapai mobil untuk memulai parade panjang ke pekuburan yang berjarak sekitar 10 kilo. Jamaah yang begitu banyak itu pun mulai merangsek maju melalui
jalan Thayran, melewati Kulliyatul Banat, Hay Sabi', Hay Zuhur, Wafa' wal Amal, Hay Asyir, dan keluar kawasan perumahan menuju pekuburan Wafa wal Amal.
Lalu lintas macet total. Mesir tidak biasa mengalami demo turun jalan sehingga arak-arakan Pengantin ini menjadi hal baru, polisi lalulintas pun belum cakap mengatur peristiwa seperti ini.
Walaupun tidak ada suara gaduh, tapi yang menarik lagi adalah banyak terdapat spanduk-spanduk ukuran besar memuat lambang Ikhwanul Muslimin. Dan rupanya pemasangan spanduk ini tidak dilarang pihak keamanan. Pada arak-arakan panjang itu, yang dominan adalah
spanduk IM dan mushaf-mushaf yang diacungkan ke arah jenazah. Orang-orang seakan merinding, gerakan terlarang ini kok sangat besar.
Kuburan yang disiapkan berada di ujung akhir pekuburan. Iringan sampai di sana berbarengan dengan kumandang shalat ashar. Upacara pemakaman berisi anjuran untuk tidak membuat yel-yel, taushiyah untuk
selalu tsabat dalam perjuangan, dan doa. Bagian inilah yang paling mengharukan. Kawasan kuburan yang berbentuk bukit-bukit kecil itu penuh dengan manusia, melihati kamar pengantin yang ada di bawah mereka. Mengucapkan selamat dan doa agar bahagia di kehidupan
baru beliau.
Malam harinya, insya Allah akan dilangsungkan upacara al-'Aza di mesjid Rabiah al-Adawiyah. Acara semacam biasanya berisi pendengaran Alquran, dan sambutan-sambutan mengenang sirah perjuangan orang
yang meninggal.
Demikian kisah pendek ini, semoga bermanfaat. Ya Allah, tempatkanlah beliau di Firdausil A'la bersama para Anbiya, Syuhada, dan Shalihin. Dan pertemukanlah kami kembali di sana. Amin.
Taken from Sofwan abbas in Profetik & IMSA's Milist.
SUMBER : MANARUL 'ILMI( WWW.MASJIDITS.CJB.NET )

Takkiro sampeyan lunga mesir le..ckckck
sur..tulisannya kekecilan..mataku sakit bacanya